Wah, Mimpi Basah di Poros Maritim Dunia

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 8 Januari 2019 - 20:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hmmm… rupanya memang keluhan Gimin bukan omong kosong. Saya riset di mbah google, keluarlah bermacam-macam pemberitaan mengenai kekesalan asosiasi pelaut Indonesia kepada rezim Jokowi.

Mulai dari harapan, sampai realitas kepemimpinan Jokowi. Garis besarnya hanya satu yaitu kurangnya kesejahteraan. Ketika kesejahteraan tercapai, pasti keamanan akan mengikuti. Lihat saja, jangankan tsunami buoy yang rusak atau hilang, kapal tankerpun bisa hilang di Indonesia.

Padahal Jokowi berjanji untuk memperbaiki sistem pertahanan maritim melalui drone pada tahun 2014. Sebagai Negara kepulauan terbesar di seluruh dunia, sudah berapa banyak penduduk Indonesia menjadi korban akibat keganasan laut.

Bahkan sekarang ada humor satir yang sering diungkapkan, “jangankan lawan Tiongkok atau AS di Laut China Selatan, lawan laut kita sendiri saja Indonesia kalah.” Lihat saja betapa kotornya laut Indonesia. Sampai beberapa saat yang lalu ditemukan ikan Paus mati di Wakatobi karena terlalu banyak makan sampah.

Belum lagi ditambah dengan insiden perompakan baik yang diangkat media maupun tidak. Salah satunya yang terheboh ketika Abu Sayaf menyandera pelaut Indonesia.

Apakah Menko Kemaritiman Indonesia kurang gagah? Apakah KASAL TNI kurang cermat? Atau Kepala Bakamla kurang pinter? Atau apakah Menteri Kelautan kurang tegas? Nggak juga. Mereka adalah putra putri terbaik di Indonesia dan sangat ahli dibidangnya.

Tapi ketika rapornya masih merah, berarti yang harus dipertanyakan adalah bagaimana komitmen Presiden Jokowi terhadap janji untuk menciptakan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Semua visi dan misi Jokowi sangat bagus untuk didengarkan, bahkan untuk dimimpikan.

Namun realitanya bertolak belakang. Bukan karena Indonesia tidak mampu mencapainya. Tapi karena pemerintah tidak serius mengucapkannya. Sehingga pada akhirnya kita teringat celoteh Rocky Gerung dimana fiksi mengundang fantasi, begitu pula visi misi Jokowi nanti tidak lebih dari sekedar fiksi. (*)

[Oleh : Frank Wawolangi. Penulis adalah pemerhati hubungan internasional]

(*) Untuk membaca tulisan Frank Wawolang yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru