Mengukur Efektifitas Utang LN Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 16 Oktober 2020 - 11:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia menempati posisi 10 besar negara berpendapatan rendah-menengah dengan hutang terbesar. (Foto : Idx.co.id)

Indonesia menempati posisi 10 besar negara berpendapatan rendah-menengah dengan hutang terbesar. (Foto : Idx.co.id)

Opiniindonesia.com – Bank Dunia (The World Bank) kembali mengumumkan daftar negara yang memiliki Utang Luar Negeri (ULN) terbesar di jajaran negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Di dalam daftar tersebut terdapat negara-negara, yaitu Argentina, Brazil, India, Meksiko, Afria Selatan, Thailand, Turki, Indonesia, dan Rusia.

Negara yang menempati urutan pertama sebagai yang terbesar memiliki ULN, yaitu Republik Rakyat China (RRC) dengan nilai sejumlah US$2,11 Triliun atau setara Rp 31,017 Biliun (kurs dollar Rp 14.700) dan peringkat ke-10 ditempati oleh Thailand dengan jumlah ULN sebesar US$180,23 Miliar atau setara Rp 2.649,381 Triliun.

Sementara itu, Indonesia berada pada peringkat ke-8 dengan jumlah ULN mencapai US$402,08 Miliar atau setara Rp5.910,576 Triliun pada Tahun 2019.

Secara total, ULN negara-negara berpendapatan rendah dan menengah mencapai US$8,1 Triliun pada 2019 atau terdapat kenaikan sebesar 5,4 persen dibanding Tahun 2018.

Kemenkeu sendiri membantah jumlah ULN Indonesia tersebut, dan menyatakan laporan Bank Dunia yang memasukkan Republik Indonesia (RI) ke dalam daftar 10 negara berpenghasilan rendah menengah dengan utang besar tidak tepat.

Kemenkeu menyebut laporan Bank Dunia yang memasukkan RI ke dalam daftar 10 negara berpenghasilan rendah menengah dengan utang besar tidak tepat.

Laporan Bank Dunia yang bertajuk Statistik Utang Internasional 2021 dan dipublikasikan pada pekan ketiga dibulan Oktober 2020 atau masuk dalam publikasi Triwulan III.

Walaupun ada bantahan dari pihak Kementerian Keuangan dengan menyatakan, bahwa laporan dari Bank Dunia tidak tepat.

Sebab, lembaga ekonomi dan keuangan internasional itu menggunakan basis data ULN Indonesia sebagai pembanding jumlah utang luar negeri negara lain di kategori penghasilan rendah dan menengah.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru