Tanah Tusuk Sate Itu Sebenarnya Mitos atau Kenyataan?

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 21 Oktober 2020 - 15:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang esais dan peneliti sosial keagamaan, Muh Nursalim. (Foto: suaraislam.id)

Seorang esais dan peneliti sosial keagamaan, Muh Nursalim. (Foto: suaraislam.id)

Opiniindoneisa.com – “Pokoknya kalau aku masih di toko ini hidupku akan terus sengsara. Saya sudah berkali-kali minta dipindah ke cabang lain belum di acc juragan” ujar Suyitno pagi itu.

“Lha memang kenapa ?” Tanya Mulyadi penasaran

“Kantor ini ada di posisi tusuk sate. Tempat seperti ini tidak baik untuk perumahan maupun usaha. Bikin apes saja” Suyitno mencoba memberi penjelasan

“Maksudnya tusuk sate itu bagaimana?” pria ceking itu belum paham

“Ini lho, depan gedung ini kan ada jalan ke timur dan ke barat, terus tepat ditengah-tengah ada jalan yang menuju ke arah utara. Jadi posisi gedung ini ada di pertigaan seperti huruf T, seperti ditusuk” Suyitno mencoba memberi penjelasan.

“Kalau tidak baik untuk usaha, faktanya juraganmu itu kaya raya. Bisnisnya sukses, cabangnya ada di mana-mana?” Mulyadi mencoba mendebat.

“Iya, untuk juragan baik tetapi buat anak buah itu menyengsarakan. Saya beritahu ya, lima keryawan yang pernah kerja di sini bercerai dengan pasanganyya. Kemudian satu orang suaminya mati, bahkan baru saja ada yang mati mendadak padahal tidak sakit apa-apa” Suyitno mencoba meyakinkan.

Toko yang diceritakan laki-laki itu adalah milik pak Kabul. Ia juragan pakan ternak yang memiliki duapuluh cabang. Di setiap kota kecamatan ada cabangnya. Dan salah satu toko itu ada yang terletak di posisi tusuk sate.

Menurut fengsui, rumah di posisi tusuk sate itu memang tidak baik. Penghuninya akan sering bertengkar, rezekinya susah dan sering sakit. Pokoknya selalu membawa sial. Primbon juga bilang begitu.

Fengsui adalah ilmu topografi kuno dari Tiongkok yang memercayai bagaimana manusia dan astronomi serta bumi dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima Qi positif. Qi terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat. Qi dialirkan oleh angin dan berhenti ketika bertemu dengan air.

Qi baik, disebut juga dengan istilah napas kosmik naga. Jenis Qi ini dipercaya sebagai pembawa rezeki dan nasib baik. Namun, ada pula Qi buruk yang disebut Sha Qi, yang dipercaya sebagai pembawa nasib buruk (wikipedia).

Hidup Suyitno memang nelangsa. Laki-laki itu baru saja digugat cerai istrinya. Sudah begitu motornya hilang saat diparkir di pinggir lapangan. Ia nyambi ternak kambing etawa yang diperah susunya. Tetapi pasca beranak malah mati, induk mati cempe ikut mati. Dia bilang sial gara-gara kerja di toko tusuk sate.

Kata Allah dalam sebuah hadis qudsi, “Ana ‘inda dzanni ‘abdi ( Aku sesuai dengan prasangka hambaku). Suyitno punya prasangka buruk terhadap nasibnya dan pikiran buruk itu menjadi kenyataan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi saw bersabda, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku” (Hr. Bukhari)

Kalau istilah Prof. Yohannes Surya dinamakan mastakung (semesta mendukung). Azam dan pikiran seseorang akan membentuk alam dan lingkungan sekitarnya. Karena itu jika seseorang di pagi hari berfikir bahwa hari itu adalah hari sial, maka kemungkinan besar akan terjadi apa yang dipikirkan.

Itulah sebabnya Rasulullah mengajari umatnya melakukan zikir pagi dan sore, salah satunya adalah berikut ini.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَمْسَى قَالَ « أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ». قَالَ أُرَاهُ قَالَ فِيهِنَّ « لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِى النَّارِ وَعَذَابٍ فِى الْقَبْرِ ». وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا « أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ

Dari Abdullah ra berkata, Nabi saw jika sore hari bedo’a “Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur. Jika pagi hari juga mengucapkan zikir tersebut diganti lafalnya asbahna wa asbahal mulku lillah.

Ada saudara yang membeli tanah sunduk sate. Tanah seperti ini memang lebih murah karena adanya mitos pembawa sial. Penjual punya keyakinan tanah bikin sial tetapi pembeli sebaliknya. Dirinya malah yakin tanah tersebut akan sangat menguntungkan, karena berada di tempat strategis.

Ia beli dengan harga 200 juta, kemudian setelah ditawarkan online maupun off line, tanah itu laku tiga kali lipatnya. Padahal hanya dalam jangka tiga bulan. Prasangka kepada Allah baik dan ternyata semesta mendukung menjadi kaberuntungan.

Memang, membangun rumah di tanah tusuk sate perlu arsitektur tersendiri. Jika jalan yang menjadi tusuk itu lebar dan besar maka angin yang berhembus akan laju kencang tanpa hambatan. Karena itu perlu teknik agar angin tidak langsung menyapu rumah. Misalnya, depan rumah ditanami pohon yang rindang seperi kelengkeng atau mangga dalam jumlah yang cukup, untuk mengerem angin.

Jika rumah menghadap ke timur atau ke barat, tentu sinar matahari akan langsung masuk ke bilik rumah. Dengan adanya pepohonan, cahaya akan terserap ke daun sehingga yang masuk ke rumah hanya sorotan yang indah. Begitu juga bila ada debu yang berterbangan partikel itu akan dihambat oleh pepohonan.

Walhasil tanah tusuk sate bikin sial itu hanya mitos. Mitos bila dipegangi dapat menjadi kenyataan. Maka merubah pola pikir menjadi kata kuncinya. Selebihnya manusia dapat mengatasi keadaan posisi rumah dengan ilmu perumahan, bukan dengan ilmu klenik. Serahkan kepada ahlinya agar rumah yang ada di posisi sunduk sate dapat dihuni dengan nyaman, aman dan menyehatkan.

Oleh : Dr Muh Nursalim, adalah seorang esais dan peneliti sosial keagamaan.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru