FED Memangkas Bunga, Tapi Mengapa Rupiah Tetap Lemah?

- Pewarta

Rabu, 19 Juni 2019 - 08:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Neraca Transaksi Berjalan adalah seluruh transksi dari perdagangan internasional suatu Negara yang mencakup transaksi barang, jasa, pendapatan faktor (dari aset dan tenaga kerja), serta transfer. Jadi jika suatu negara mengumumkan Neraca Transaksi Berjalannya Defisit itu sebenarnya berarti bahwa negara itu adalah peminjam bersih dari seluruh dunia dan dengan demikian membutuhkan aliran modal atau keuangan untuk membiayai defisit ini.

Untuk menunjukkan Indikator CAD tidak buruk, sebenarnya sangat mudah, karena mirip dengan arus kas negatif sebuah perusahaan. Defisit dapat menjadi hal positif jika dana itu digunakan untuk tujuan investasi produktif (yang menghasilkan aliran pendapatan masa depan) seperti pengembangan industri atau infrastruktur. Namun, jika defisit digunakan untuk konsumsi, hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan struktural karena tidak menghasilkan aliran pendapatan di masa depan. Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini mengatakan bahwa CAD 1,5 persen dari PDB adalah normal untuk Indonesia. Namun, meskipun itu normal, itu masih menyiratkan bahwa negara tersebut mengakumulasi liabilitas asing bersih dan ini dapat menimbulkan risiko di masa depan.

Pertanyaannya apa hubunganya CAD dengan Rupiah ? dan dampaknya bagi rakyat banyak?

Defisit neraca perdagangan Indonesia periode April 2019 tercatat sebesar US$ 2,5 miliar.Sedangkan neraca perdagangan barang memiliki hubungan yang erat dengan neraca transaksi berjalan (current account).Transaksi berjalan sendiri merupakan gambaran arus uang yang keluar masuk melalui sektor-sektor riil. Lebih jelasnya neraca transaksi berjalan mengalami defisit (current account deficit/CAD), ada lebih banyak uang yang keluar dari Indonesia ketimbang yang masuk. Apalagi jika jumlahnya sangat besar, artinya banyak sekali uang yang berhamburan ke luar negeri.Neraca Transaksi Berjalan menjadi fondasi yang sangat penting bagi stabilitas nilai tukar mata uang. Bila rupiah kekurangan pasokan modal di dalam negeri, maka akan sulit untuk menahan tekanan mata uang lain. Seperti saat ini, padahal Bank Federal Amerika akan Memangkas bunga banknya minga dua kali, tpi kelapa rupiah tidak menguat secara significan. Hal ini karena fondasi ekonomi kita lemah, kas cendrung kosong terus, karena selalu deficit.

Tahun 2011 kita ketahui kurs rupiah berada di sekitar Rp 9.000/US$, sedangkan pada tanggal 15 Mei 2019, nilai kurs rupiah sebesar Rp 14.455. Artinya sudah melemah hingga 60,6%.Di tambah CAD tambah melebar, Menyebabkan BI turun tangan untuk mengendalikan CAD karena akibatnya yang besar pada stabilitas rupiah. Padahal pada hakikatnya, CAD adalah fenomena sektor riil. BI Sebagai pengambil kebijakan moneter, instrumen yang bisa dilakukan untuk mengusir pengaruh buruk CAD, adalah dengan menaikkan suku bunga acuan. Karena bila suku bunga meningkat, maka aktivitas ekonomi melambat karena BI menarik uang kedalam genggamannya. Akibatnya impor barang bisa turun dan mengurangi beban pada transaksi berjalan. Jika neraca perdagangan defisit, apalagi sangat parah, maka transaksi berjalan akan semakin terbebani. CAD yang sudah tinggi bukan tidak mungkin terus makin tinggi.

Pada tahun 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit tahunan yang paling tinggi sepanjang sejarah NKRI, yaitu sebesar US$ 8,7 miller. Pada tahun yang sama, CAD juga tercatat sebesar US$ 31,05 miliar, atau setara 2,98% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Itu juga merupakan yang paling parah sejak tahun 2014.

Kembali kita CAD kuartal I-2019 sebesar US$ 6,9 miliar atau setara 2,6% PDB, lebih tinggi jika dibandingkan kuartal I-2018 yang hanya 2,01% PDB. Hal inilah yang menjadikan pelemahan rupiah menjadi semakin sulit dihindari. Akiibatnya BI sulit menurunkan suku bunga acuan. Bukanya turun malah naik suku bunga acuan BI.Padahal saat ini bunga acuan BI sangat tinggi, maka dampak yang paling terasa ke masyarakat awam adalah bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang relatif tinggi.

Kabar baiknya Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed menurunkan suku bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR). Maka akan memungkin BI menurunkan suku bunganya. Tapi kalau ini deficit terus membengkak bukan tidak mungkin rakyat BI tidak memangkas merangkak bunga, Akibatnya masyarakat membayar cicilan ke bank, Lebih Berat, Karena walaupun bunga tetap daya beli turun.

Oleh: Helmi adam. Penulis adalah Mahaiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Borobudur Jakarta.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru