Gerakan ini dapat diduga sebagai upaya untuk membentuk poros perlawanan yang besar dengan menghimpun masyarakat secara masif, guna menjatuhkan pemerintahan yang sah.
Pandangan ini didasarkan pada Maklumat KAMI yang dedeklarasikan di Tugu Proklamasi, dinilai tidak sesuai dengan landasan yang disebutkannya sebagai gerakan moral non parlemen.
Oleh karena, substansi maklumat lebih kepada tuntutan-tuntutan politik yang dapat menggiring fikiran masyarakat/pengikutnya untuk menilai buruk kinerja pemerintah, dan membentuk opini seakan-akan pemerintah tidak acuh terhadap permasalahan negara ini.
Suasana politik yang amat kental juga diakui oleh pihak-pihak internal kami, diantaranya Duta Besar Palestina dan Meutia Hatta yang telah dijebak hadir dalam deklarasi.
Selanjutnya Novel Bamukmin yang juga merupakan internal KAMI tidak menampik adanya tokoh KAMI yang mengejar mengejar jabatan dan kekuasaan politik untuk kepentingannya.






