Klarifikasi Menag yang Semakin Memancing Reaksi Umat

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 10 September 2020 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Agama, Fachrul Razi. (Foto : Instagram @fachrulrazi__official)

Menteri Agama, Fachrul Razi. (Foto : Instagram @fachrulrazi__official)

Opiniindonesia.com “Saya melihat orang, mohon maaf saja, waktu jadi (pasukan) perdamaian di Timur Tengah. Menangis saya, lihat orang berkelahi. Allahu Akbar, Allahu Akbar, bunuh-bunuhan, Allahu Akbar dengan penuh kebencian. Kita (Menag, red) lihat lah itu. Kita (Menag) harapkan jangan ada muncul di Indonesia ini. Untuk itu kita coba tata baik-baik, sama-sama-sama,” [Fachrul Razi, 8/9/2020].

Wajar jika sejumlah pihak mempertanyakan agama menteri agama, Fachrul Razi. Sebab, agak sulit dicari alur logikanya, seorang Menag, beragama Islam, lantas mengajak umat untuk mencurigai Hafidz, yang fasih bahasa Arab dan rajin ke Masjid, sebagai bibit radikalisme.

Boleh lah untuk membela diri, menjelaskan diri lahir dari keluarga perantau Minangkabau yang berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, agar orang mempercayai keislamannya. Boleh juga, menegaskan diri sejak di taruna militer telah aktif berjuang untuk Islam.

Tapi apa maksudnya mengaku melihat bunuh bunuhan di Timur Tengah dengan saling mengucapkan takbir ? Apakah ini bagian dari tuduhan lagi terhadap kalimat takbir ?

Apa urusannya, kalaupun itu terjadi dikaitkan dengan Indonesia ? Apa urusannya, bunuh bunuhan dengan hafidz ? Bunuh bunuhan dengan fasih berbahasa Arab ? Bunuh bunuhan dengan rajin sholat ke masjid ?

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB

Pers Rilis

Desay SV Pamerkan Inovasi Mobilitas Berbasis AI di AEE 2026

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:27 WIB