Klarifikasi Menag yang Semakin Memancing Reaksi Umat

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 10 September 2020 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Agama, Fachrul Razi. (Foto : Instagram @fachrulrazi__official)

Menteri Agama, Fachrul Razi. (Foto : Instagram @fachrulrazi__official)

Kita Umat Islam tentu masih mempertanyakan, kebenaran klaim Menag menangis karena menyaksikan peristiwa saling bunuh dengan mengumandangkan takbir. Apalagi, jika latar yang dijadikan rujukan peristiwa adalah timur tengah. Daerah konflik area penjajahan Kapitalisme global.

Saat Amerika menginvasi Irak, itu yang dibunuh Amerika lebih dari 2 juta orang. Itu tak ada satupun tentara Amerika yang berteriak takbir saat membunuh. Apakah Menag menangis ? Prihatin dan lantas menjadikan semua yang berbau Amerika sebagai bibit radikalisme ?

Apakah, saat Yahudi Israel La’natullah membantai kaum muslimin di Palestina sambil meneriakkan takbir ? Apakah Menag menangis menyaksikan saudara kaum muslimin di Palestina dibantai Yahudi ? Apakah, kemudian Menag menjadikan Yahudi sebagai simbol radikalisme ?

Apakah Rezim bengis Komunis China, ketika membantai kaum muslimin di Uighur meneriakkan takbir ? Apakah Menag, menangis dan menjadikan komunisme sebagai ciri orang radikal ?

Apakah Menag, menangis menyaksikan ekstrimis Budha membantai saudara muslim di Rohingya ? Apakah saat membantai mereka meneriakkan takbir ? Apakah Menag, menjadikan orang yang rajin ke Wihara sebagai ciri seorang pengemban paham radikal ?

Sudahlah Pak Menag, jangan bikin umat tambah sakit hati. Sebaiknya diam jika tidak bisa bicara baik. Ikuti hadits Rasulullah SAW, berkata baik atau diamlah !

Kami umat Islam sudah sangat sakit, jangan tambah lagi. Sebaiknya, sebelum bertutur satu kata berfikirlah ribuan kali. Jangan hanya berfikir apa yang ada di benak anda, pikirkan pula apa yang ada dibenak Umat Islam.

Lebih baik lamban bicara seperti Moerdiono ketimbang ceplas-ceplos tapi bikin sakit hati Umat Islam. Ingatlah, semua kata dan ucapan, akan dihisab kelak di akhirat.

Oleh : Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB

Pers Rilis

Desay SV Pamerkan Inovasi Mobilitas Berbasis AI di AEE 2026

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:27 WIB