Membayangkan Papua Lepas

- Pewarta

Senin, 26 Agustus 2019 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Mudah-mudahan saja gerakan referendum Papua tidak membesar. Dan tidak sampai menjadi negara sendiri. Soalnya, saya belum pernah menginjakkan kaki di Bumi Cendrawasih. Maaf, malu sebetulnya mengatakan ini.

Sudah lama sekali ingin mendatangi saudara sebangsa di Pupua. Kunjungan ke sini selalu tertangguhkan karena dulu itu saya ingin keliling Pupua selama sebulan atau lebih.

Tapi, karena masa cuti kerja tak pernah cukup, saya pun bertekad datang ke sini setelah pensiun. Teorinya, pasti banyak waktu kalau sudah tak bekerja lagi.

Ternyata, muncul masalah baru. Setelah pensiun, yang kurang bukan waktu tapi biaya. Namun, tekad untuk berkunjung ke pedalaman Papua tidak surut. Bahkan, perkembangan terbaru ini semakin membuat saya penasaran.

Penasaran untuk bertanya langsung kepada orang Papua apakah mereka sudah tak suka lagi berada di NKRI. Kalau iya, mengapa mereka tak suka.

Apakah gara-gara rasisme monyet di Surabaya? Entahlah! Kelihatannya lebih dari itu. Saya sepakat dengan kesimpulan Pak Amien Rais bahwa rasisme monyet itu hanya pemantik kerusuhan. Benar seratus persen bahwa orang Papua sudah puluhan tahun ini menyimpan sakit hati terhadap perlakuan yang mereka alami. Ketidakadilan yang akut.

Kalau gara-gara rasime monyet itu orang Papua ingin lepas dari NKRI, sangatlah menyedihkan. Jangan-jangan nanti harus pakai paspor untuk masuk ke Papua. Itu pun kalau tak ditolak. Kalau ditolak karena orang Indonesia mereka masukkan kategori sadis, lebih sedih lagi.

Itulah bayangan saya bila Papua tak sudi lagi bersama NKRI. Semoga saja sebelum itu terjadi, saya bisa sampai ke Papua. Sehingga tidak harus memohon visa kunjungan dan masuk melewati meja imigrasi mereka.

Tak terkatakan sekiranya ini terjadi. Tapi, saya bisa membayangkan kalau orang Papua merasa semakin jauh dari Indonesia. Semakin tak betah di rumah NKRI. Wallahu a’lam.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru