Misteri Angka 19

- Pewarta

Jumat, 19 Juli 2019 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Bagi umat Islam, kalimat “bismillahirrahmanirrahim” itu sangat familiar. Lepas perbedaan antar para ulama apakah kalimat “bismillahirrahmanirrahim” itu bagian dari surat al-fatihah atau bukan. Termasuk empat imam Mazhab membicarakan soal ini. Anda tahu empat Imam Mazhab? Para pengkaji Islam pasti paham. Ada Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Tidak hanya mereka, para pengkaji fiqih yang lain juga membahas soal ini.

Wajibkah kalimat “bismillahirrahmanirrahim” dibaca dalam shalat? Bagi Imam Malik, tidak wajib. Bagi Imam Hanafi, Fatihah juga tak wajib dibaca dalam shalat. Bisa diganti dengan tiga ayat Al-Qur’an yang lain. Sementara bagi yang berpendapat wajib, apakah kalaimat “bismillahirrahmanirrahim” dibaca “jahr” (keras), atau “sirr” (pelan), mereka beda pendapat juga. Pengamat politik kok ngomongin fiqih?. Sudahlah, sampai disini saja kajian fiqihnya. Baca sendiri di buku Tafsir Ali As-Shabuni, Fiqih Madzahibul Arba’ah, Bidatul Mujtahid atau Fiqih Sunnah.

Yang pasti, kalimat “bismillahirrahmanirrahim” menjadi bagian dari mu’jizat Al-Qur’an. Diantaranya dapat dilihat dari jumlah hurufnya. Huruf dalam kalimat “bismillahirrahmanirrahim” itu ada 19. Kalau dipreteli, kalimat “bismillahirrahmanirrahim” terdiri dari kata “ismi”, “Allah”, “Arrahman”, dan “Arrahim’.

Kata “ismi” disebutkan 19 kali dalam Al-Qur’an. 19:19=1. Kata “Allah” disebutkan 2698 kali di dalam Al-Qur’an. 2698:19=142. Dan kata “Arrahmah” disebutkan 57 kali di dalam Al-Qur’an. 57:19=3. Sedangkan kata “Arrahim” disebutkan 144 kali di dalam Al-Qur’an. 144:19=6. Semua angkanya bisa habis dibagi 19. Tak kurang, juga tak lebih.

Semua “fawatihussuwar” atau awal surat di dalam Al-Qur’an seperti “Yaasin”, “nuun”, “qaaf” dan lainnya, semua jumlah hurufnya di dalam surat tersebut bisa dibagi habis dengan angka 19. Tentu semua ini by design Allah. Tak mungkin tanpa sengaja. Lihat hasil risetnya Dr. Rasyad Khalifah yang dibukukan dalam “Miracle of The Quran”.

Kalau sengaja, tentu ada makna, tujuan dan pesannya. Nah, tugas manusia untuk mencari rahasia di balik angka 19 dalam kalimat “bismillahirrahmanirrahim” dan “fawatihussuwar”.

Dari data-data Al-Qur’an yang mutlak dan tak dapat dibantah ini, kita masuk pada penafsiran. Bahasa ilmiahnya, analisis. Tafsir atau analisis bersifat “ijtihadi”. Bisa benar, dan tak menutup kemungkinan salah. Namanya juga “ijtihad”. Kalau benar katanya dapat “dua pahala”. Pahala usaha dan pahala kebenaran. Kalau salah? Dapat satu pahala. Yaitu pahala usaha. Itu juga kalau ikhlas dan sungguh-sungguh.

Ada yang menafsirkan angka 19 itu jumlah malaikat. Ini tafsir gaib. Tentu tak terbaca oleh Indra dan logika. Perlu ada dalil lain yang mendukung. Ada juga yang mengatakan angka 19 itu jumlah langit. Kalau di dalam Al-Qur’an, langit selalu disebutkan ada tujuh. Dan kata “assamaawaat” yang artinya langit dalam bentuk “jama'” disebutkan tujuh kali. Dua pendapat ini nampaknya belum memberi kepuasan.

Ah, saya coba memberanikan diri ikut berpendapat. Sekedar membuat ruang untuk dialog keagamaan. Bahwa angka 19 terdiri dari angka 1 dan angka 9. Sama-sama bilangan ganjil. Dan Tuhan suka yang ganjil. Angka 1 menunjukkan “Tauhid”. Karena Tuhan hanya “Satu”. Esa dalam bahasa Pancasila. Itu sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Angka 9 adalah angka tertinggi. Atau angka maksimal.

Dalam konteks kehidupan, jika manusia berbasis pada niat dan semangat “Tauhid”, yaitu “lillahi ta’ala” yang disimbolkan dengan angka 1, dimana keihlsan menjadi motivasinya, maka semua aktifitasnya akan mencapai angka tertinggi, atau angka maksimal. Ia akan meraih kesuksesan dan juga kemuliaan.

Mirip filosofi dalam ritual sa’i. Berangkat dari “Sofa” berakhir di “Marwa”. Sofa artinya halus atau suci. “Marwa” artinya tempat yang tinggi. Sucikan, bersihkan dan luruskan niat, maka seseorang akan mencapai puncak kesuksesan dan kemuliaan yang tinggi.

Dalam analisis yang lebih antropologis, angka 1 bisa diartikan sebagai visi. Maksudnya, setiap langkah mesti fokus pada 1 tujuan. Sementara angka 9 itu simbol ikhtiar. Maka, setiap ikhtiar harus maksimal. Dalam setiap langkah manusia, baik sebagai individu maupun bersama-sama dalam sebuah kelompok sosial, mesti terbiasa fokus pada satu tujuan dengan ikhtiar yang maksimal. Ini antropologi kesuksesan.

Itulah angka 19. Dan kebetulan saya dilahirkan tanggal 19 Juli. Tepat hari ini. Hari Jum’at, 19 Juli. Tahunnya? Ah, rahasia. Yang pasti sudah tidak remaja lagi. Lalu, apa hubungannya dengan angka 19 dalam kalimat “bismillahirrahmanirrahim” dan “fawatihussuwar”? Gak ada juga! Mungkin sekedar “mengais doa”.

Di tanggal dan bulan dimana saya telah dilahirkan, yaitu hari ini, jumat 19 Juli, mohon doa semoga selalu bisa memulai langkah dengan kalimat “bismillahirrahmanirrahim”, dan diberi kemampuan untuk terus bisa belajar menjaga keikhlasan dan ketawadhuan. Terima kasih kepada yang berkenan sedekah doa.

Oleh: Tony Rosyid. Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru