Taktik Pihak Penguasa Sangat Berbahaya

- Pewarta

Senin, 20 Mei 2019 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Sebetulnya, tidaklah perlu pihak penguasa bereaksi overdosis terhadap keinginan rakyat untuk berkumpul di Jakarta pada hari pengumuman angka perolehan suara pilpres, 22 Mei. Sebab, mereka yang hadir hampir bisa dipastikan adalah orang-orang yang tidak bermaksud jahat. Paling-paling mereka hanya ingin menyampaikan penolakan terhadap kecurangan pilpres.

Tindakan represif dan cara-cara “heavy handed” (keras) yang digunakan oleh penguasa dalam upaya untuk membungkam gerakan massa tolak kecurangan pilpres, adalah taktik yang sangat berbahaya. Taktik ini hanya akan memperuncing suasana.

Cara represif itu misalnya persekusi terhadap para ulama dan orang-orang yang menyuarakan sesuatu yang tak menyenangkan penguasa. Sedangkan “heavy handed” contohnya adalah pengerahan pasukan keamanan bersenjata lengkap dalam jumlah yang berlebihan. Ada kesan pengerahan ini bertujuan untuk mengintimidasi publik.

Kenapa taktik ini berbahaya? Pertama, karena akan menciptakan kesan bahwa rakyat yang menuntut kejujuran dianggap musuh negara. Sampai-sampai negara harus mengerahkan perangkat keras yang seharusnya digunakan untuk menumpas kerusuhan besar. Padahal, mereka yang akan berkumpul itu sebagian besar melaksanakan ibadah puasa Ramadan.

Kedua, pengerahan kekuatan yang berkombinasi ribuan personel Brimob dan belasan ribu tentara juga menggoreskan pesan bahwa perangkat keamanan negara sedang digunakan untuk memihak capres 01. Kenapa anggapan seperti ini gampang menggumpal? Karena selama ini perangkat keamanan, terutama kepolisian, telah dengan nyata menunjukkan keberpihakan kepada capres 01.

Jadi, taktik represif dan “heavy handed” yang sedang diterapkan oleh penguasa sebaiknya tidak diteruskan. Atau, paling tidak, lakukanlah “review” (tinjau ulang) terkait jumlah personel dan peralatan yang diturunkan.

Kalau diteruskan, cara ini pasti akan lebih meyakinkan rakyat yang menuntut kejujuran dan keadialan bahwa mereka dianggap remeh oleh penguasa. Dianggap remeh dalam arti bisa ditakut-takuti.

Para penguasa perlu memahami bahwa rakyat yang bakal datang ke Jakarta itu, dan yang juga melaksanakan aksi serupa di daerah, sudah sangat paham tentang apa yang mereka lakukan. Dan paham tentang risiko yang bakal mereka hadapi.

Dengan pemahaman itu, massa rakyat tidak datang untuk maksud bertempur. Tidak wajar dihadapi dengan perangkat keras untuk perang terbuka.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru