Opiniindonesia.com – Ada yang salah dengan negara ini. Ketika alat-alat pertahanan dianggarkan oleh instansi pemerintah. Bertrilyun-trilyun harganya untuk membeli water Canon, gas air mata, bahkan peluru untuk menghadirkan keamanan dan kenyamanan negara ini. Namun pertanyaan nya, peluru dan alat-alat itu untuk siapa? Apakah betul dengan adanya alat-alat pertahanan itu digunakan untuk menghalau musuh negara kita? Apakah betul alat-alat pertahanan itu dimanfaatkan untuk menciptakan keamanan? Dan ketika alat-alat itu justru mengorbankan anak bangsa kita sendiri, mungkinkah itu murni kecelakaan? Terlalu banyak preseden kecelakaan atau faktor human error di era Jokowi yang berakibat hilangnya nyawa WNI. Mulai dari tidak berfungsinya tsunami buoy, tidak memadainya shelter-shelter bencana alam, kebakaran hutan, meninggalnya petugas pemilu sampai yang terbaru meninggalnya pendemo di depan Bawaslu pada tanggal 22 Mei 2019.
Kita tentunya masih ingat beredarnya video masuknya 2 kapal patroli Vietnam memprovokasi kapal patroli Indonesia yang menangkap kapal nelayan ilegal di perairan Indonesia. Tidak satupun peluru ditembakan. Hanya makian dan ancaman sudah berhasil menghalau kapal patroli Vietnam. Tanpa sebutir peluru. Iya betul, tanpa sebutir peluru. Karena sebutir peluru, mahal harganya.
Namun mahalnya harga peluru tidak berlaku bagi pendemo di Bawaslu kemarin. Sepanjang malam kita disuguhkan tontotan kebrutalan aparat kepolisian yang tidak segan-segan membubarkan massa di depan bawaslu. Berulang kali uang rakyat ditembakan. Berulang kali uang rakyat digunakan untuk melukai rakyat yang hadir untuk memperjuangkan aspirasinya. Dan berulang kali uang rakyat disalahgunakan untuk membungkam ketidakadilan. Sehingga kita berpikir, apakah ada yang salah dengan negara ini? Sedangkan anggaran pertahanan kita saja belum optimal mengingat kondisi APBN kita yang masih selalu defisit sehingga harus terus berutang.
Tentu ada yang salah. Ketika kita menonton film Man in the Iron mask. Kita teringat bagaimana 3 legenda three musketeers yang sudah pensiun, kembali ke istana untuk menghentikan ketidakadilan yang dilakukan oleh Raja Louis ke 14. Ketiga three musketeers ini adalah pasukan kepercayaan Raja Louis 13 yang menjadi legenda dan role model bagi pasukan Kerajaan Perancis. Ketiga pensiunan tentara tersebut turun gunung karena melihat Raja Louis 14 yang semena-mena menindas rakyat Perancis. Dan ketiga three musketeers tersebut dengan gagah berani harus berhadapan dengan junior-junior pasukannya untuk membela keadilan.
Film yang diadaptasi dari novel Alexandre Dumas sedikit banyak menggambarkan situasi dan kondisi negara kita pada saat ini. Bagaimana banyak purnawirawan TNI maupun Polri turun gunung untuk mengingatkan kembali bahayanya otoritarian. Bagaimana purnawirawan tersebut sudah mulai berani muncul dipermukaan untuk menghentikan ketidakadilan. Dan bagaimana purnawirawan tersebut datang untuk memperingati bahayanya melawan kehendak rakyat.
Kita dapat merenungkan sejenak apa yang terjadi saat ini di negara kita. Rakyat Indonesia bukanlah lawan yang seimbang bagi aparat keamanan. Karena rakyat Indonesia bukanlah lawan bagi kepolisian. Kita harus ingat, bahwa polisi dan tentara lahir dari rakyat dan tugasnya mengayomi rakyat, bukan memusuhi rakyat. Apalagi memukul rakyat menggunakan uang rakyat. Maka tidak salah nanti pada akhirnya para purnawirawan akan turun berhadapan dengan aparat seperti yang diceritakan dalam film Three Musketeers.
Oleh: Frank Wawolangi. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.






