Menanyakan Bau Busuk Bangkai Trans Jakarta?

- Pewarta

Senin, 29 Juli 2019 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Tulisan ini saya buat atas desak-kan dari teman teman, untuk menulis tentang kasus bangkai Bus Trans Jakarta, yang sudah menjadi mayat di bogor. Setidaknya Ada 483 bus yang terparkir di lahan depan rumah sakit Perttiwi di Dramaga bogor yang seperti mayat belum terkubur. Mobil tersebut adalah milik kontraktor impor, yang memenangkan tander pengadaan bus Pemda DKI. Hal ini semakin runyam karena telah dinyatakan pailit perusahaan pengadaan bus tersebut oleh pengadilan. Akibatnya nasib uang muka yang telah dibayarkan Pemda DKI, tidak jelas pengembalian-nya. Sehingga uang yang sudah dikeluarkan dari APBD DKI, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dan nasib uang yang telah dibayarkan pun sebesar 110 Milyar rupiah, menjadi tidak jeias. Padahal jika digunakan buat membangun rumah murah untuk penduduk DKI, mungkin bisa mendapatkan 110 rumah sederhana, dan lebih bermanfaat. ketimbang uang itu di buang sia sia.

Yang menjadi aneh dari kasus ini, PEMDA DKI, seperti mati langkah, pasalnya perusahaan-nya pailit, kemudian asetnya tidak punya. Padahal ketika mereka memenangkan tender, jelas administrasi, dan penanggungjawabnya. Harusnya bisa di kejar tuntas, jangan sampai seperu kasus sumber waras, dikembalikan oleh ibu Kartini Mulyadi hanya sebesar 335 Milyar saja, sisanya yang masih ratusan milyar, ternyata tidak pernah sampai ke Kartini Mulyadi, bahkan Kartini Mulyadi meminta PEMDA DKI bertanya pada AHOK. Dan kasus ini hilang begitu saja ditangan KPK, seolah-olah uang ratusan milyar hilang lebih kecil dari suap puluhan juta yang di OTT KPK.

Sehingga wajar jika banyak pertanyaan perihal Bus Trans Jakarta yang didatangkan dari Cina, dengan harga lebih mahal dari Bus Mercy buatan Jerman itu. Padahal ketika sampai saja, Bus tersebut, banyak yang karatan, dan lebih parah lagi, ketiak digunakan banyak yang mengalami kebakaran busnya. Pertanyaan-nya ada apakah dibalik tender pengadaan Bus Trans Jakarta yang merugikan Pemda DKI ratusan milyar tersebut. Semua pelakunya seperti lenyap ditelan bumi, hanya kepala dinas Pemda DKI Udar Pristono yang bertanggungjawab seorang diri. Padahal Udar hanyalah aktor kecil dilapangan. Dapat dipasti ada orang lain lagi, termasuk Pengusaha yang menyuap Udar. Lalu kenapa KPK berhenti di Udar ?.

Kasus Bus Trans Jakarta, kita hanya menyium baunya saja, seperti bangkai. Tapi sayangnya kita tidak tahu Bangkai itu ada dimana, dan apa bentuk bangkai itu ?

Jika ada kemauan dari KPK, sebenarnya kasus ini, mudah såja. Tinggal KPK menyelidiki alur tanda tangan, dan juga nama-nama pengusaha dibalik berkas yang sudah dkirimkan ke panitia tender, serta orang orang yang beredar pada saat itu. Selain itu, ada jejak digitalnya yang harus diselidiki juga. Disisi lain juga, adanya jejak orang atau pelaku melalui saksi-saksi orang Pemda DKI, yang menangani tender waktu itu. Bahkan Udar sendiri pernah bernyanyi, tapi akhirnya bungkam. Kasus ini amat mudah, hanya butuh kemauan, dan niat baik KPK saja, sehingga bisa terpecahkan. Pertanyaan-nya justru, adakah niat baik KPK untuk menyelesaikan kasus ini..(Sama seperti KPK yang menanyakan niat pelaku kejahatan korupsi hehehe).

Oleh: Helmi Adam. Penulis adalah Lulusan Terbaik Pasca Sarjana Universitas Bhayangkara Jakarta.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB