Ibarat Pedang, Pastikan Terasah Sebelum Terjun ke Medan Tempur

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 22 Oktober 2020 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 oktober. (Foto: Cania.id)

Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 oktober. (Foto: Cania.id)

Opiniindonesia.com – “Menulislah!” Itu pesan salah seorang ustadz yang masih aku ingat meski sudah bertahun-tahun berlalu. Saat itu hampir sebagian besar santri gemar membaca buku, namun hanya sedikit yang ‘mampu’ menulis.

Padahal, tulisan mereka bisa dibilang lumayan meskipun sekedar coretan diary atau cerita bersambung yang biasa diedarkan secara ilegal di kalangan santri.

“Baca, analisa, lalu tulislah kembali dengan bahasamu sendiri.”

Itulah inti nasehat beliau.

Mulailah saat itu aku membaca satu buku lalu merangkumnya, baca lagi lalu merangkum lagi. Sekedar itu, karena meski sampai saat ini aku tetap masih belum berani menganalisa.

Jadilah aku seperti anak kerajinan padahal rasanya biasa saja. Sampai akhirnya kebiasaan itu berhenti sendiri seiring kesibukan di kelas-kelas akhir.

Bertahun-tahun lamanya baru bisa aku memaknai pesan itu, mengapa beliau berpesan kepada kami agar belajar menulis dan bukan yang lain.

Tepatnya di saat media sosial mulai dikenal masyarakat. Sebuah wadah yang awalnya hanya sekedar untuk having fun telah berkembang menjadi medan perang pemikiran. Menjadi sarana yang paling berpengaruh dalam membentuk opini masyarakat.

Mulailah aku mengerti mengapa kita harus bisa menuangkan aspirasi dalam bentuk tulisan. Apalagi kala itu seorang gadis SMA yang sebut saja namanya Avi, membuat tulisan ‘cerdas’ di usia semuda itu.

Tulisan berjudul Agama Adalah Warisan itu bisa saja dibantah anak pesantren dalam beberapa menit, sayangnya tidak dalam barisan paragraf.

Liberalisme, pluralisme, dan isme-isme lainnya dikampanyekan di media sosial melalui tulisan-tulisan yang indah tapi membius, seakan benar tapi meracuni pikiran. Tersebar di dunia maya, viral, disukai dan dishare ribuan orang.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru