Bagaimana Afrika Jadi Koloni China

- Pewarta

Senin, 15 Juli 2019 - 14:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Saya heran dengan adanya “chips” di semua pohon di kota Guangzou ketika saya kesana bulan lalu. Hotel saya yang di depannya ada taman, sorenya saya menyempatkan gerak-gerak sedikit melepas penat karena meeting panjang.

Karena chips di pohon itu juga lah saya mengikuti terus jalanan yang ada pohon yang menurut perkiraan saya akan muter kembali ke arah hotel tempat saya menginap.

Jalan kaki selama 1 jam tersebut yang menurut saya berputar ternyata saya tidak menemukan hotel saya. Saya bingung. Mungkin karena kepala saya isinya adalah chips tadi, ngapain pohon di kasih chip?

Lalu seperti kebiasaan saya seorang ontrovert yang agak malu tanya sama orang, maka google map solusinya. Yang ternyata roaming alias ngak bisa jalan tuh google.

Oh saya lupa, google di kendalikan di China. Emangnya di Negara asal saya, asing berkuasa, di China produk dalam negeri mereka yang berkuasa.

Akhirnya, saya pun memilih bertanya kepada seorang yang sedang duduk di tepi jalan menikmati sore yang sejuk. Kasual penampilannya, dan saya tanya “excuse me, could you please guide me to hotel st regis, sorry I m lost.”

Dia menatap saya dan berkata, “do you want to go from west side or east side?”

Saya terperanjat dengan bahasa Inggrisnya yang fasih. Saya menjawab terserah mana aja asal cepat.

Lalu dia menunjuk gedung putih tepat di depan saya, dimana ternyata disisi belakangnya itulah hotel tersebut namun karena tertutup pohonan besar logo nya tidak kelihatan.

Saya mengucapkan terima kasih sambil memuji, “your English very good, you’ve abroad?” Memastikan apakah dia pernah keluar negeri.

Dia jawab, “never been abroad. but couple years ago I have business export to amerika, so I need to be able speaking their language, by phone and email.”

Nice, saya jawab singkat. And now? Still business?

Dia jawab sambil jalan ke arah berlawanan dengan saya tuju, “yes, ini africa. africa is one of china future.”

Sambil mendengar perkataannya saya mengucapkan sekali lagi terima kasih yang dijawab hanya lambaian tangan.

Kepala saya bertambah 2 masalah, chips di pohon, dan afrika akan jadi the next china.

Kok jauh bener ya mereka itu mikirnya. Sementara Indonesia mikirnya politik dalam negeri yang cakar cakaran terus, kapan ke afrikanya?

Oleh: Mardigu WP. Penulis adalah seorang pengusaha.

Opini ini sudah dipublikasikan oleh Kontenislam.com. (*)

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB