Opiniindonesia.com – Tuduhan radikalisme telah menyasar kepada umat beragama. Radikal selalu dikonotasikan buruk, destruktif dan main labrak. Radikalisme menjadi stigma baru setelah tetorisme yang “life time” nya sudah usai. Stigma buruk yang disandangkan pada umat Islam bahkan berpintu “good looking” hafidz dan “menguasai” bahasa arab.
Menurut KBBI radikal mengandung makna 1) secara mendasar (sampai kepada yang prinsip). 2) amat keras menuntut perubahan. 3) maju dalam berfikir atau bertindak.
Dari ketiga makna tersebut tidak ada yang mengarah pada tindakan destruktif. Butir dua “amat keras” pun dapat mengacu pada aspek jiwa atau semangat. Secara etimologi radikal berasal dari kata latin radix atau radici yang artinya “akar”.
Beragama harus radikal artinya harus kokoh dan berprinsip. Berakar kuat pada kebenaran yang diyakininya. Menjalankan segala ketentuan-ketentuan yang mengaturnya.
Konsisten dan konsekuen. Nabi Ibrahim As dan para Nabi lain mencontohkan sikap berprinsip dalam beragama. Doktrin dan kalamnya dikenal dengan “kalimah thoyyibah”.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






