Upaya persekusi dengan cara “nabok nyilih tangan” hanya efektif jika dilakukan oleh penguasa ketika masih dalam kondisi sangat kuat. Orla dan Orba melakukan itu. Tepatnya, represi. Tapi keduanya jatuh ketika ekonomi terpuruk.
Saat ini, kita bicara tentang ekonomi yang semakin terpuruk. Semua menyadarinya. Ini artinya, imun penguasa sedang rentan. Jika tak mampu menahan krisis, maka upaya persekusi dan tindakan represi akan menjadi senjata makan tuan.
Menyerang balik di saat imun betul-betul melemah karena dihajar krisis ekonomi. Situasi ini memungkinkan terjadinya amputasi.
Beda jika penguasa melihat KAMI sebagai gerakan moral. Dirangkul dan diberi ruang untuk berekspresi. Tak ada persekusi. Tentu, ini akan menentramkan situasi.
Sayangnya, selalu ada persekusi di setiap KAMI mengadakan deklarasi. Di Bandung dipersekusi. Di Surabaya, NTB, bahkan di Jakarta, terus terjadi persekusi.





