Mengapa Bu Mega Sering Sewot dan Marah-marah? Sebaiknya Jangan

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 2 November 2020 - 10:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. (Foto: indopolitika.com)

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. (Foto: indopolitika.com)

Opiniindonesia.com – Membela diri dengan membantah dirinya PKI kemudian melabrak milenial yang berdemo serta menuduh pendemo sebagai pembakar halte adalah berlebihan. Kasihan juga mbak Mega selalu sewot dan marah-marah. PDIP adalah partai penguasa tetapi seperti oposisi sikap politiknya. Lalu ada masalah serius apa ?

Empat alasan mengapa Megawati dan PDIP disorot :

Pertama, tuduhan PKI dan bantahan muncul saat Menlu AS datang dan mengingatkan peran PKC di Indonesia serta bahayanya. Mega bersinggunggan dengan tuduhan PKI wajar karena PDIP memiliki kader elemen kiri sebagaimana terindikasi dan pengakuan kader PDIP Arteria Dahlan;

Kedua, nuansa Orde Lama dalam RUU HIP. Wajar pula karena RUU HIP diinisiasi oleh kader PDIP dan sebagaimana publik berargumen dalam berbagai aksinya telah mengaitkan isi RUU dengan faham komunisme. Meskipun telah berganti menjadi RUU BPIP namun posisi RUU HIP kini tetap mengambang. Memperpanjang tuduhan.

Ketiga, mempertanyakan prestasi milenial. Dengan menuduh milenial sama saja dengan menohok siswa atau mahasiswa yang berunjuk rasa. Pasti ada serangan balik dengan mempertanyakan adakah prestasi Megawati selama jadi Presiden maupun Ketum partai “wong cilik” ? Nyatanya miskin prestasi, jika tidak ingin disebut dengan wanprestasi.

Keempat bakar-bakar halte. Sudah viral yang membakar itu bukan pengunjuk rasa baik buruh ataupun mahasiswa tetapi gerombolan peliharaan. Nah peliharaan siapa ? itu masalahnya. PDIP harus teriak agar diusut tuntas siapa dibalik gerombolan para pemfitnah jahat tersebut. Aksi penyelundupan aksi harus dihentikan oleh seruan Megawati sebagai tokoh yang berpengaruh.

Kini Megawati gelisah, apakah karena Jokowi sudah tak bisa menjadi petugas partai lagi ataukah PDIP yang diserang atau dibully sementara Jokowi diam saja ? Nampaknya tidak ada pembelaan sama sekali.
Ada tendensi munculnya partai atau kekuatan lain yang lebih mampu mengendalikan Jokowi ketimbang Megawati sebagai komandan dari “the ruling party”.

Ujungnya memang persoalan Pilpres 2024 yang menggelisahkan. Di samping popularitas Anies dan Gatot meningkat, juga di internal PDIP Puan Maharani atau Budi Gunawan yang digadang-gadang, ternyata sulit merangkak naik. Kejutan justru nama Ganjar Pranowo yang lebih berkibar.

Mega memang sedang dirundung malang. Tiga hal yang dapat dilakukan untuk memulihkan dan merekonstruksi :

Pertama bersihkan PDIP dari kader atau anasir kiri yang sudah terbaca publik. Kedua revisi platform kekiri-kirian dari perjuangan partai yang tertuang dalam AD/ART dan prinsip perjuangan lainnya. Ketiga, jangan tempatkan kelompok agama sebagai musuh. Di samping kontra-produktif, juga patut disadari bahwa bangsa Indonesia adalah masyarakat yang relijius dan anti sekularisme.

Selamat merenung, tak perlu tergantung pada daya dukung otoritas Presiden yang fakta politiknya kini berada dalam keadaan yang tidak terlalu ajeg. Tingkat kepercayaan yang semakin merosot.

Oleh : M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru