Pembebasan AZERBAIJAN Dari Komunisme?

- Pewarta

Senin, 5 Agustus 2019 - 16:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baku Old City

Baku Old City

Opiniindonesia.com – Negara kaya minyak nan indah, tempat kelahiran satrawan terkenal yaitu NIzami, penulis Laila Majenun, adalah Negara yang Merdeka di Tahun 1990. Sebelumnya Negara ini dibawah kekuasaan Uni Sovyet, selama 70 tahun, dimana agama islam disingkirkan oleh kekuasaan komunsme. Namun jarang orang mengetahui perjuangan Azerbaijan untuk mendapatkan kekuasaan dari tangan Uni Sovyet menelan korban jiwa hingga 600.000 orang dibaku.

Tanggal 19 Januari 1990 masyarakat demontrasi untuk memerdekakan diri dari Uni Sovyet. Namun sayangnya mereka semua dibantai dan dibunuh pada tanggal 20 Januari 1990 oleh tentara Uni Sovyet. Korbanya dari anak anak hingga kakek kakek, dari laki laki hingga wanita, dari sipil hingga tentara. Semua mati sahid dan di makamkan di sahidatul ximanan, yaitu sebuah taman yang indah yang terletak di kota baku, di depan gedung Tower Flame yang megah, dan disamping gedung parlemen Azerbaijan.

Setelah membantai rakyat Azerbaijan tentara Uni Sovyet, dihajar oleh tentara Turki, yang membantu Azerbaijan. Sehingga tentara Turki keluar dari Azerbaijan dan kemudian tentara turki menjaga Azerbaijan dari serangan Uni Sovyet waktu itu. Bantuan Turki sangat penting artnya bagi kemerdekaan Azerbaijan, sehingga Presiden Haydar Aliyev membangun monumen untuk tentara Turki yang berjuang bersama bangsa Azerbaijan disamping makam para korban sahid untuk kemerdekaan Azerbaijan. Pidato Haydar Aliyev lah yang mengatakan “ One Nation, Two Country” atau satu bangsa dua Negara.

Penghormatan orang Azerbaijan pada orang Turki adalah karena bantuan Turkilah Azerbaujan bisa merdeka dan menjadi Negara paling makmur di kaukasus. Di Indonesia, justru kita menjadi orang yang tak kenal budi, karena tak pernah ucapkan terima kasih pada bangsa arab, yang pertama kali mengakui kemedekaan Republik Indonesia.

Oleh: Helmi Adam. Penulis adalah Pemikir, Kreatif ,peneliti dan Praktisi Media.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB