Penghapusan Pelajaran Agama

- Pewarta

Selasa, 16 Juli 2019 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Kemarin (15/7/2019) saya diundang untuk mengisi workshop di sebuah SMA di “South Mountain” (Gunung Kidul). Ternyata gurunya ada yang dari “Mounty Land” (Muntilan).

Saya kebagian topik : “Pengembangan pendidikan karakter berlandaskan nilai-nilai Islam”.

Ketika dihubungi oleh panitia saya langsung bilang yes. Pertama, saya senang bisa “sharing” dengan para guru. Saya senang topik pendidikan. Saya suka bicara tentang nilai (values).

Kedua, workshop ini juga bisa menjadi kontra narasi (counter narrative) terhadap gagasan penghapusan pelajaran agama di sekolah tempo hari.

“Pelajaran agama harus dihapus di sekolah”. Yang punya ide ini pasti pengikut mazhab sontoloyologi dan ngawurologi.

Lha piye jal, agama itu kan sumber nilai. Yang tegas menunjukkan baik buruk itu ya agama. Yang punya kejelasan pandangan moral tentang benar salah itu ya agama.

Agama Islam, misalnya, mengajari orang untuk memiliki karakter yang baik. Mengislam nggak cukup hanya di lisan tanpa diikuti iman. Imanpun nggak cukup hanya diucapkan. Keimanan harus dibuktikan dengan ihsan. Ihsan itu ya diwujudkan melalui karakter yang baik. Ngono Dul.

Kanjeng Nabi itu tugasnya memperbaiki karakter umat. Jadi tugas kenabian itu tugas mendidik. Tugas itulah yang kemudian diteruskan oleh para orang tua dan guru. Lha kok si Darmono itu bilang, pendidikan agama itu harus dihapuskan. Mbelgedes!

Pendidikan tanpa agama itu bisa menjadi sangat positivistik dan empiris radikal!

Ujung-ujungnya: singkirkan Tuhan; jangan bawa agama ke wilayah publik; tempatkan agama pada wilayah privat. Moral agama itu nggak ada. Moralitas benar salah itu relatif. Jadi indikator baik buruk itu bisa sampeyan tentukan sendiri berdasarkan kepentingan-kepentingan sampeyan; berdasarkan vested interest sampeyan; berdasarkan syahwat politik sampeyan.

Dalam ajaran Islam, justru fondasi pendidikan adalah: cintai Tuhanmu. Tresno marang Gusti Allah. “Loving God”. Jangan “duakan” Dia. “La tusyrik billah”. Hadirkan ajaran-ajaran Tuhan dalam kehidupan. Gunakan petunjuk Tuhan untuk berperilaku dalam kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ngono kuwi bro kudune.

“Pengajaran agama itu katanya membuat konflik, maka nggak usah ada pelajaran agama saja”, katanya. Jarene sopo? Ini pendapat yang ahistoris. Mbelgedes lagi.

Dalam konteks Indonesia, masyarakat kita ini lebih banyak rukunnya daripada konfliknya. Anak-anak muda yang berbeda agama di kampung saya bisa gotong royong bersama membangun pos ronda.

Ibu saya saling kunjung mengunjungi dengan tetangganya yang katolik. Saling menyapa. Saling berbagi makanan. Ora masalah.

Yang bikin konflik itu ya orang-orang yang teriak-teriak toleransi, tapi hobinya membubarkan pengajian itu. Teriak-teriak NKRI harga mati, tapi hobinya persekusi. Tanyakan mereka apakah yang seperti itu diajarkan di sekolah.

Yang bikin konflik ya para politisi yang sukanya memecah belah umat itu. Media dikuasai. Hobinya melakukan framing. Memfitnah tokoh yang dianggap berseberangan. Menghabisinya dengan berita-berita buruk. Tanyakan pada mereka apakah seperti itu diajarkan di sekolah?

Islam itu selain ngajari “Loving God” juga “loving others”. Islam itu ya ketuhanan, ya kemanusiaan. Habluminallah, habluminannas. Sisi humanisme banyak.

Seorang muslim itu didorong untuk memproduksi kebaikan sekecil apapun. Orang yang paling baik itu yang bermanfaat bagi orang lain, kata Kanjeng Nabi.

Muslim yang baik itu wajahnya “basyasah”. Berseri-seri. Tersenyum. Nggak duwe duwit yo tetep tersenyum. Perkataannya “Thalaqah”. Lemah lembut. Nggak gampang marah. Nggak ngamukan. Bojone ngomel-ngomel yo tetep sabar.

Kalau masih banyak koruptor, maling, bandit dan bajing + an, yo jangan lalu ingin menghapus pelajaran agama. Sing salah dudu pelajaran agamane. Yang salah adalah strategi pendidikan agama.

Pelajaran agama gagal karena pelajarannya hanya nyampe otak tapi nggak nyampe perilaku. Pendidikan agama gagal membentuk karakter.

Dulu para para sahabat Kanjeng Nabi ngaji kitab suci dengan mempraktekkan. Mereka nggak berpindah ke ayat lain kalau belum mempraktekkan ayat tsb dalam kehidupan mereka. Maka karakter mereka hebat-hebat. Jujur. Dermawan. Lembut. Pemberani. Amanah. Adil.

Di akhirat kelak sampeyan nggak akan ditanya seberapa luas pengetahuan tafsir kitab suci yang sampeyan kuasai.

Sampeyan nggak ditanya berapa mazhab yang sampeyan ketahui. Tapi sampeyan akan ditanya apakah sampeyan telah mempraktekkan ajaran kitab suci dalam kehidupan.

Pendidikan agama itu harusnya nggak hanya ngajari orang “knowing the goods”, tapi juga “loving the goods” dan “doing the goods”.

Tahu yang benar dan salah saja bukan jaminan orang jadi baik. Iman harus dibuktikan dengan amal. Dari sinilah pendidikan agama bisa menumbuhkan karakter.

Pamungkas, mari kita tolak penghapusan pendidikan agama dan kita perbaiki strategi pendidikan agama.

[Oleh: Endro Dwi Hatmanto. Penulis adalah pemerhati pendidikan]

Opini ini sudah dipublikasikan oleh Portal-islam.id.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB

Pers Rilis

Desay SV Pamerkan Inovasi Mobilitas Berbasis AI di AEE 2026

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:27 WIB