Catatan Untuk : Dewan Kesenia Lampung Harus Lebih Kreatif dan Inovatif

- Pewarta

Senin, 10 Juni 2019 - 13:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Jika ada seloroh Dewan Kesenian Lampung harus kreatif, memang kenotasinya DKL tidak kreatif, karenanya perlu didorong atau didukung agar bisa lebih kreatif dari apa yang bisa dibuatnya sampai sekarang ini.

Pagelaran kesenian oleh DKL dalam bentuk Panggung Sastra Lampung 2019 pada 15 Juni 2019 idealnys bisa diukur dari tingkat keterlibatan rakyat bukan cuma dilakukan oleh kalangan seniman, budayawan atau sastrawan belaka. Karena pagelaran kesenian dalam bentuk apapun dapat dikatakan berhasil ketika mampu menyerap keterlibatan warga masyarakat sekitarnya. Bahkan lebih ideal lagi dapat ikut menggaet warga masyarakat dari daerah lain untuk ambil bagian.

Pagelaran kesenian apapun bentuknya harus mecerminkan sikap budaya masyarakat setempat. Parade sastra misalnya bisa saja ditimpali oleh seni rodat dari daerah Lampung Timur yang unik dan menarik itu. Kecuaki seni rodat itu sedang terancam punah, nilau sastra bertuturnya pun sungguh indah dan memiliki muatan filsafat yang tinggi nilainya.

Peluncuran buku Negeri Para Penyair seperti yang diakui Z Karzi dari Komite Sastra DKL yaitu Antologi Puisi Mutakhir Lampung dan Negeri yang Terapung. Ada juga katanta Antologi Cerpen Lampung.

Masalahnya kreteria Lampung yang selalu disertakan dalam beragam even itu jangan cuma kessingnya doang yang dipamerkan. Karena yang lebih penting adalah ruh dan nilai filosifisnya yang mampu menggetarkan kekaguman banyak orang.

Atad dasar kedua buku terbitan DKL, 2018 yang sudah memuat 47 karya penyair dan 17 karya penulis cerita pendek ini sudah saatnya untuk dibuatkan semacam pagelaran keliling, sehingga tidak hanya merasa besar kepala di kampung sendiri.

Pada saatnya pun DKL patut mengundang semua putra daerah yang ada di rantau untuk ambil bagian dalam even pesta seni dan budaya masyarakat Lampung.

Acara baca puisi dan diskusi sastra bukan tak baik, tetapi masih sangat model dan bentuk acara yang bisa nendongkrak even seni atau sastra bahkan budaya agar tidak membisankan atau masih terkesan tidak merakyat. Karena seni dan budaya itu adalah tanda ruh rakyat yang hudup, tak cums sekedar tidak mati.

Saya tidak tahu apa peranannya Minak Isbedi dan Om Naim Emel Prahana serta seniman, sastrawan serta budayawan serta tokoh adat Lampung dari senua kebuaian sering diminta saran dan pemikirannya ?

Apakah sungguh peran serta serta sumbangan pemikiran mereka sudah diadop guna mencari bentuk dan upaya pengembangan kesenian dan kebudayaan di Lampung agar bisa menjadi bagian perhatian serta daya tarik masyarakat dunia.

Harapan dari Ketua Harian DKL Heri Sulianto agar Panggung Sastra Lampung ini bisa menjadi oase di tengah panasnya suhu perpolitikan, agaknya tidaklah pas, sebab suhu Pemilu mungkin sudah mereda karena jarak waktunya relatif jauh dari pengumuman final pemenang dilakukan. Atau mungkin justru sebaliknya, semua sudah terlanjur jadi arang.

Seni sastra itu memang lembut dan bisa melunakkan hati. Tapi juga bisa membakar suasana atau semangat juang. Meski pada akhirnya kalah, toh sejarah tidak boleh pernah mencatat kita pernah menyerah. Itu kata Tjut Nya’ Dhien kepada para pasukannya dan pengawalnya ketika sesaat hendak ditangkap Belanda.

Idealnya benar semangat dan gairah perlawanan budaya serupa itulah yang layak tumbuh dan berkembang pada seniman, sastrawan dan budayawan Lampung pada hari ini.

Sebagai salah satu putra daerah yang sudah lama dirantau, wajar bila rasa kangen terus merebak liar ingin menyaksikan sekali tempo kampung kita bisa menjadi tajuk bincang yang menarik, unik dan mengagumkan bagi banyak orang. Tidak hanya untuk diriku sendiri.

Oleh: Jacob Ereste. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB