Apalagi, Jokowi dianggap antitesa birokrat yang elitis. Prabowo merepresentasikan elit politik, Jokowi diimajinasikan sebagai wong cilik.
Ganjar belum nampak narasinya. Performen wong cilik sudah lewat. Justru sekarang rakyat merindukan seorang pemimpin yang tegas, wibawa, terukur dan terencana dalam kerja. Ini hanya soal tesa dan antitesa politik.
Manuver Ganjar melalui tim medianya nampak kurang disukai DPP PDIP. Ada instruksi resmi bagi kader PDIP untuk tidak follow akun Ganjar.
Tapi, Ganjar gak peduli. Kerja tim media jalan terus, bahkan lebih masif. Wajar, karena ini peluang satu-satunya Ganjar jika ingin melanjutkan karirnya. Dari pada pensiun pasca gubernur, mendingan bertarung.
Kalah menang itu urusan nomor dua belas. Dalam konteks ini, Ganjar gentlemen. Dan memang ia adalah petarung.
Dalam acara “Penguatan Soliditas Kader Menuju Pemilu 2024 di kantor DPD PDIP Jawa Tengah yang digelar oleh Ketua PDIP Jawa Tengah dan dihadiri Puan Maharani, Ganjar tidak diundang.
Ketika dikonfirmasi, Bambang Wuryanto, Ketua PDIP Jawa Tengah berkomentar pedas: (Ganjar) “wis kemajon (kelewatan). Yen kowe pinter aja keminter (jika kamu pinter jangan bersikap sok pinter)”. Jika sikap Ganjar yang terlalu ambisi dengan jabatan presiden tidak baik, tegas Bambang.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






