Hamka lalu menganjurkan Daniel untuk berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam dengan Hamka.
Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramoedya dan calon menantunya itu, Hamka sama sekali tidak menyinggung bagaimana sikap Pramoedya terhadapnya, beberapa tahun sebelumnya yang pernah menuduhnya maling.
Melalui lembar Lentera di Harian Bintang Timoer, Pram menuduh Hamka plagiat.
Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya.
Tanpa dendam, Hamka justru memuji karya Pram, antara lain Keluarga Gerilya dan Subuh. Anak perempuan Pram itu akan menikah dan meminta bantuan Hamka untuk meng-islam-kan calon suaminya.
Permohonan ini disambut gembira oleh Hamka. Astuti, anak Pramoedya itu, lantas tak bisa menahan ledakan tangisnya karena sikap manis dari orang yang pernah “diganyang” ayahnya.
Alasan Pram mengutus calon menantunya menemui Hamka cukup unik.
“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki yang seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka,” ujar Pram.
Kalian boleh menyimpulkan. Secara tidak langsung, dengan Pramoedya mengirim calon menantunya ditemani anak perempuannya kepada Hamka, adalah bentuk permintaan maaf atas sikapnya yang telah memperlakukan Hamka selama ini.
Hamka juga telah memaafkan Pramoedya dengan bersedia membimbing dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantunya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya





