Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

OPINI INDONESIA – Bagai hukum alam, pada pemerintahan sebaik apa pun, selalu saja muncul ketidakpuasan di kalangan sebagian rakyatnya. Rakyat yang tidak puas lazim melontarkan retorika (bahasa) perlawanan. Bahasa perlawanan masyarakat Indonesia kepada penguasa dari rezim ke rezim, misalnya, menunjukkan siklus yang dinamis.

Terhadap kekuasaan rezim Orde Lama Soekarno (1945-1965) massa memproduksi retorika perlawanan terbuka terus terang. Zaman rezim Orde Baru Suharto (1966-1998), yang otoriter diktatorial, retorika perlawanan massa, yang tertekan dan ketakutan, hanya bisa dilakukan secara terselubung di bawah permukaan.

Sejak Orde Reformasi (1999 s.d. sekarang), massa memproduksi retorika perlawanan yang kelewat bebas, caci maki vulgar-sarkastik, sarat hujat-menghujat, fitnah, hoax, dan ujaran kebencian.

Menjelang dan sesudah Orde Baru tumbang, 21 Mei 1998, unjuk rasa marak di mana-mana. Yel, teriakan, tuntutan berwajah hujatan deras mengalir. Kalimat-kalimat tulis-lisan baru macam “Adili Suharto! “, “Seret Suharto dan kroni-kroninya!”,

“Bersihkan kabinet reformasi dari sisa-sisa Orde Baru!”, dan tuntutan-tuntutan seram lainnya, terus-menerus diproduksi dan direproduksi oleh demonstran dan menjadi konsumsi sehari-hari setiap kuping orang Indonesia.

Bahkan, media massa pun mengemas dan mem-blow-up hal ini secara besar-besaran ke dalam bentuk berita, gambar, foto, debat publik terbuka, laporan langsung, dll.

Di masa Orde Baru, tuntutan-tuntutan tersebut tak terbayangkan dapat muncul ke permukaan. Seluruh elemen kekuatan bangsa ini tercengkeram ketakutan luar biasa ketika harus berhadapan dengan personifikasi kekuasaan negara Orde Baru yang birokratis militeristik: keluarga besar Cendana, ABRI (sekarang TNI), Golkar.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:30 WIB