Humor Hoax : Kritik Sosial kepada Penguasa

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

4. Pada saat bensin motor/mobil anda habis, gunakan air kelapa yang sudah disiapkan tadi untuk anda minum, kemudian doronglah mobil/motor anda sampai SPBU terdekat, atau sampai tujuan. Bensin hemat, badanpun sehat!

Untuk lebih meningkatkan nilai OKTAN daya dorong, tambahkan cincau, cendol, dan sirupCocopandan. Bisa juga ditambahkan gorengan-gorengan. Selamat mencari SPBU dan jangan lupa pakailah sedotan!

Di manakah letak fungsi sosial kritiknya? Konteks sosial humor ini adalah decak kagum rakyat Indonesia saat Jokowi memperkenalkan mobil Esemka karya siswa-siswa STM Otomotif di Boyolali, Jawa Tengah pada 2014. Akhirnya, publik dibuat kecewa karena kemudian terungkap dalam kabar tak sedap bahwa mobil Esemka ternyata buatan China.

Maka humor berita hoax (7) ini sekaligus kritik atas janji-janji manis Jokowi yang pernah hendak menasionalkan mobil Esemka dan lalu sampai sekarang hilang tak terdengar kelanjutannya. (Humor ini beredar sebelum Jokowi merealisasikan program mobil SMK, 2019?).

Pada titik inilah pembaca menertawakan kegagalan tokoh besar sekelas presiden, setidaknya dalam perspektif Superiority Theory, begitulah. Sementara, dalam pandangan Relief Tension Theory, humor (7) digunakan untuk fungsi relief, yang seperti mimpi, yang memungkinkan obsesi terlarang (menertawakan presiden) muncul ke permukaan. Relief humor (7) melancarkan perlawanan samar terselubung, sebuah representasi kritik sosial terhadap kegagalan penguasa.

Incongruity Theory memandang humor (7) hadir saat ada sesuatu yang tidak lazim, irasional, paradoks (wong bensin kok diganti dengan air kelapa!), tidak koheren, keliru, tidak konsisten (janji-janji seorang pemimpin) dengan logika yang digunakan dalam mempersepsi sebuah peristiwa. Humor didasarkan pada kognisi, karena melibatkan persepsi individual terhadap peristiwa—dalam hal ini bensin hendak diganti dengan air kelapa–orang, atau simbol.

Begitulah, selain sisi negatifnya, ternyata berita bohong (hoax) di media sosial juga memiliki sisi positif. Dalam perspektif teori humor, berita hoax pada media sosial memiliki kemungkinan mengirimkan: pesan-pesan jenaka self-enhancing, pesan-pesan afiliatif, dan juga pesan-pesan self-defeating, yang melakukan perlawanan balik terhadap bullying verbal-agresif.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru