Humor Hoax : Kritik Sosial kepada Penguasa

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Terdapat tiga tradisi teori tentang humor: superiority theory, relief tension theory, dan incongruity theory (Martin, 2014).

Menurut Teori Superioritas (Superiority Theory), humor seringkali dimanfaatkan untuk mentertawakan orang lain. Humor yang mengekspresikan superioritas merupakan sebuah mekanisme kontrol atau bentuk resistensi.

Dalam pandangan Relief Tension Theory, humor akan mengurangi ketegangan atau stress. Humor berfungsi relief, yang menjalankan negosiasi atau mediasi melalui pengurangan ketegangan dan meningkatkan kepercayaan di antara pihak-pihak yang berinteraksi. Seperti mimpi, humor memungkinkan obsesi terlarang muncul ke permukaan.

Dalam relief humor terdapat dua sifat: pertama, menyembuhkan dengan membiarkan ketegangan dan energi dilepaskan; kedua, melancarkan perlawanan samar terselubung, sebuah representasi pembangkangan terhadap penguasa, dan pembebasan dari sebuah tekanan.

Incongruity Theory memandang humor hadir saat ada sesuatu yang tidak lazim, irasional, paradoks, tidak koheren, keliru, tidak konsisten dengan logika yang digunakan dalam mempersespsi sebuah peristiwa. Humor didasarkan pada aspek kongnisi seseorang, karena melibatkan persepsi individual terhadap peristiwa, orang, atau simbol.

Berdasarkan ketiga teori utama tersebut, pesan-pesan yang mungkin ditangkap dari berita hoax dapat  diklasifikasikan ke dalam empat kelompok. Pertama, pesan-pesan verbal-agresif yang merendahkan dan mengecilkan pihak lain.

Kedua, pesan-pesan jenaka self-enhancing, yang menertawakan kebodohan diri sendiri. Ketiga, pesan-pesan afiliatif, yang menyatukan pihak-pihak yang berbeda-beda dan tengah memperuncing konflik). Keempat, pesan-pesan self-defeating, yang melakukan perlawanan balik terhadap bullying verbal-agresif.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru