Ya Ampun, Suko dan Achandra Datang, Laba PGN Terjun Bebas 87 %

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 14 September 2020 - 09:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komisaris utama, Achandra Tahar. (Foto : Instagram @arcandra.tahar)

Komisaris utama, Achandra Tahar. (Foto : Instagram @arcandra.tahar)

Opiniindonesia.com – Ternyata bukan hanya PT Pertamina (Persero) sebagai holding saja yang mengalami kerugian mencapai Rp 11,13 triliun pada perhitungan rugi labanya di semester 1 tahun 2020, hal yang sama dialami juga oleh sub holdingnya PT Perusahaan Gas Negara Tbk ( PGAS) sepanjang semester pertama thn 2020 labanya anjloknya mencapai 87,56 %.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada Jumat (4/9/2020) oleh Direktur Keuangan PGN Arie Nobelta Kaban mengungkapkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk di semester pertama pada tahun 2020 hanya sebesar USD 6,72 juta atau sekitar Rp 97,5 miliar (kurs Rp 14.500/ USD), sementara pada periode yang sama pada tahun 2019 laba bersih yang tercatat adalah USD 54, 04 juta.

Meskipun Arie Kaban menyatakan bahwa kinerja keuangan PGAS pada semester pertama ini sangat dipengaruhi oleh triple down effect, yaitu akibat dampak pandemi covid 19 terjadi penurunan konsumsi, disertai penurunan harga minyak dan gas dunia, dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS adalah alasan yang tidak juga bisa dibenarkan semuanya.

Karena dalam kondisi harga minyak dan gas serta LNG yang lagi murah dimulai pada Maret 2020 itu, mungkin banyak berpengaruh hanya pada sektor hulu PGAS saja, yaitu terhadap atifitas PT Saka Energi, kalaupun dihilir hanya relatif sedikit saja, karena banyak industri yang membatasi operasinya, tetapi karena PSBB dan work from home seharusnya konsumsi gas rumah tangga semakin meningkat.

Lazimnya sektor hilir berkontribusi besar bagi laba perusahaan, adapun contoh lainnya ternyata konsumsi LPG meningkat tajam dan harga jualnya tidak sepeserpun dikoreksi oleh Pertamina, padahal CP Aramco saat itu hanya sekitar USD 250/ metrik ton, sebelumnya CP Aramco LPG bisa mencapai USD 500/ metrik ton.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru