Gatot Nurmantyo dan KAMI, antara Persekusi dan Anti Demokrasi

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 29 September 2020 - 16:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jenderal TNI Purn Gatot Nurmantyo. (Foto : Instagram @nurmantyo_gatot)

Jenderal TNI Purn Gatot Nurmantyo. (Foto : Instagram @nurmantyo_gatot)

Yang diperjuangkan oleh KAMI itu adalah nasib bangsa dan masa depan bangsa ini yang setahap lagi menuju arah otoritarian berhaluan komunis. Yang anti kritik, anti agama, dan tidak bisa menerima perbedaan dengan cara intimidasi dan persekusi.

Tapi apakah KAMI gentar dan bergeming ?? Justru yang terjadi sebaliknya. Kita bisa melihat bagaimana wajah para deklarator, presidium bahkan wajah Pak Gatot ketika dirinya di”persekusi” oleh kelompok massa tertentu itu. Raut wajahnya terlihat enjoy-enjoy saja. Wajah yang tenang dan optimis.

Padahal kalau pak GN mau, beliau adalah mantan Panglima TNI, orang nomor satu di TNI, mantan Pangkostrad dan Pangdam di Jawa Timur. Sebenarnya mudah bagi Pak GN untuk memobilisasi massa untuk sekedar “show of force” atau hanya sekedar menghadapi massa yang tak seberapa itu, baik di Magelang dan Surabaya.

Tapi ketika hal itu sempat ditawarkan untuk mengirim pasukan, Pak GN malah menjawabnya dengan santai “tak usah..Semua biar natural saja”. Malah kita yang panas dingin dan gregetan melihat jawaban tenang Pak GN.

Untuk itulah saya tak terlalu kaget ketika ada sedikit keributan waktu kegiatan silaturahim KAMI di Surabaya pada tanggal 28 September 2020 hari ini. Karena empat hari sebelumnya segala kemungkinan itu sudah kita baca dan ketahui, bahkan sampai dengan siapa aktor penggeraknya mudah ditebak.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB