Yang diperjuangkan oleh KAMI itu adalah nasib bangsa dan masa depan bangsa ini yang setahap lagi menuju arah otoritarian berhaluan komunis. Yang anti kritik, anti agama, dan tidak bisa menerima perbedaan dengan cara intimidasi dan persekusi.
Tapi apakah KAMI gentar dan bergeming ?? Justru yang terjadi sebaliknya. Kita bisa melihat bagaimana wajah para deklarator, presidium bahkan wajah Pak Gatot ketika dirinya di”persekusi” oleh kelompok massa tertentu itu. Raut wajahnya terlihat enjoy-enjoy saja. Wajah yang tenang dan optimis.
Padahal kalau pak GN mau, beliau adalah mantan Panglima TNI, orang nomor satu di TNI, mantan Pangkostrad dan Pangdam di Jawa Timur. Sebenarnya mudah bagi Pak GN untuk memobilisasi massa untuk sekedar “show of force” atau hanya sekedar menghadapi massa yang tak seberapa itu, baik di Magelang dan Surabaya.
Tapi ketika hal itu sempat ditawarkan untuk mengirim pasukan, Pak GN malah menjawabnya dengan santai “tak usah..Semua biar natural saja”. Malah kita yang panas dingin dan gregetan melihat jawaban tenang Pak GN.
Untuk itulah saya tak terlalu kaget ketika ada sedikit keributan waktu kegiatan silaturahim KAMI di Surabaya pada tanggal 28 September 2020 hari ini. Karena empat hari sebelumnya segala kemungkinan itu sudah kita baca dan ketahui, bahkan sampai dengan siapa aktor penggeraknya mudah ditebak.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






