Habibie, N250 Gatotkaca, dan Akhir Tragis Perjalanan Dirgantara Indonesia

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 30 Agustus 2020 - 21:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.

Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.

Beriringan dengan geliat PTDI untuk membangkitkan kembali industri dirgantara nasional, pihak swasta melalui PT Regio Aviasi Industri yang didirikan BJ Habibie, memperkenalkan pesawat untuk jenis baru R-80. Pesawat komersil jarak pendek berkapasitas 80-92 penumpang, irit bahan bakar, dan kelasnya belum ada di pasaran.

Meski belum dibuat, R-80 sudah dipesan 155 unit oleh Nam Air, Kalstar, Trigana Air, dan Aviastar. Karenanya tidak aneh bila R-80 menjadi bagian dari proyek strategis nasional.

Bila kita melihat kembali bagaimana cara Indonesia mulai membangun industri dirgantara nasional serta sikapnya menghadapi kejatuhan ketika industri dirgantara yang terimbas krisis moneter, maka kita tetap sangat percaya diri akan kemajuan industri dirgantara. Pasalnya, Indonesia yakin bahwa kelak negeri ini akan mempunyai industri pesawat terbang setara Boeing atau Air Bus.

Dari peristiwa di tanah Aceh, kita melihat dan telah berjuang untuk upaya memulai industri pesawat terbang. Pasca krisis moneter yang membuat IPTN ambruk, kita berhasil memulihkan keadaan yang mendera.

Namun, akhir-akhir ini, kepercayaan diri kita akan masa depan industri pesawat terbang nusantara seperti hilang harapan. Mulanya adalah wabah Covid-19 yang menjadi alasan dikeluarkannya R-80 sebagai bagian dari proyek strategis nasional. Langkah ini diambil ketika pemerintah lebih memberikan perhatian terhadap recovery ekonomi karena pandemi covid19, tapi bukan mengatasi pandemi nya itu sendiri.

Terakhir adalah ketika N-250 yang menjadi karya anak bangsa, setelah berjibaku sedemikian rupa untuk bisa menciptakan pesawat sendiri, hanya berujung di musium. Bukan diperbaiki, dimodernisasi, apalagi diproduksi secara massal termasuk dipromosikan secara besar-besaran dan dibuat lebih beragam untuk kebangkitan ekonomi dan kepercayaan diri bangsa ini.

Ironisnya, alih-alih dikembangkan dan bahkan produktivitas karya-karyanya dipertaruhkan sebagai karya genuine anak bangsa, warisan BJ Habibie ini malah kini masuk ke keranjang musium, menyedihkan.

Oleh : Ricky Rachmadi, SH, MH, Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi DPP Partai Golkar.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru