IPTN inilah yang kemudian dikenal sebagai industri pesawat terbang termaju di negara berkembang. Menyadari bahwa membangun industri pesawat terbang nusantara itu membutuhkan proses panjang dan transfer teknologi dari negara-negara maju, maka pada awal-awal pengembangan IPTN, BJ Habibie menggandeng kerjasama dengan CASA.
Sebuah industri pesawat terbang dari Spanyol yakni Construcciones Aeronáuticas SA. Dari kerjasama inilah lahir pesawat CN-235. Sebuah pesawat penumpang sipil (airliner) kelas menengah bermesin dua. Pesawat bernama sandi Tetuka ini telah menjadi pesawat paling laku di kelasnya.
Karena pesawat ini merupakan proyek kerjasama antara CASA dan Nurtanio, maka kode pesawatnya pun disebut “CN”.
Berikutnya, IPTN tidak lagi menyandarkan kerjasama dengan negara maju dalam membuat pesawat terbang. IPTN mencoba berdiri sendiri untuk membuat pesawat terbang. Maka lahirlah pesawat N-250.
Berbeda dengan sebelumnya yang mempunyai kode CN, kode pesawat ini “N” saja yang berarti Nusantara atau Nurtanio. N-250 sendiri adalah pesawat penumpang sipil yang menjadi primadona IPTN untuk merebut pasar di kelas 50-70 penumpang yang diluncurkan pada Indonesia Air Show 1996 di Cengkareng.






