Awal mula sejarah dirgantara Indonesia
Beberapa tahun atau tak begitu lama setelah kemerdekaan, dengan kepandaian khasnya dalam berbicara di depan publik, di depan saudagar dan tokoh masyarakat Aceh, Presiden Soekarno mengatakan, “Saya tidak makan malam saat ini, kalau dana untuk itu (membeli pesawat) tidak terkumpul.”
Usai Presiden Soekarno berbicara, seorang pria muda berumur sekitar 30 tahun, M Djoened Joesof, berdiri dan berkata “Saya bersedia”.
Langkah Djoened Joesof, Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) ini pun diikuti peserta jamuan makam malam yang lain. Presiden Soekarno tentu saja tersenyum puas. Ia lalu mengajak hadirin beranjak ke meja makan guna santap malam.
Adegan di atas adalah bagian di antara cuplikan yang terjadi di Hotel Atje, Banda Aceh pada 16 Juni 1948. Pada waktu itu Gasida mengadakan jamuan makam malam yang dihadiri banyak saudagar dan tokoh masyarakat Aceh, sebagaimana ditulis dalam buku, “Aceh Daerah Modal” yang diterbitkan Yayasan Seulawah RI-001 tahun 1992.
Kehadiran Soekarno sendiri pada waktu itu adalah bagian perjalanan sebagai upaya mengumpulkan dana perjuangan untuk pembelian pesawat terbang.






