Bersama dengan CEKOP (Industru pesawat terbang Polandia) keduanya bekerjasama dalam membangun gedung untuk fasilitas manufaktur pesawat terbang, pelatihan SDM, dan memproduksi PZL-104 Wilge dibawah lisensi Gelatik.
Tidak cukup sampai di sini. Empat tahun kemudian, tahun 1965, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit pendirian KOPERLAPIP (Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang) dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari. Setahun kemudian, kedua lembaga ini digabung menjadi LIPNUR atau Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio.
Setelah masa kepemimpinan Presiden Soekarno berakhir dan dilanjutkan oleh kepempinan Presiden Soeharto, perhatian pemerintah Indonesia terhadap Industri Dirgantara nasional tidaklah kendur, meskipun kedua pemimpin/agenda pemerintahan itu dikenal bertolak belakang dan tokoh-tokohnya terlibat banyak perseteruan politik.
Bila Presiden Soekarno mengirim Nurtanio dan teman-temannya ke Manila untuk mempelajari industri Dirgantara, maka Presiden Soeharto memanggil pulang BJ Habibie ke Indonesia untuk membangun industri Dirgantara nasional. BJ. Habibie waktu itu dikenal sebagai pakar pesawat cemerlang yang sangat disegani di Jerman.
Namun karena panggilan untuk mengabdi di negeri sendiri, BJ Habibie melepaskan segala privillege yang dia dapatkan di Jerman. Atas dukungan penuh Presiden Soeharto, BJ Habibie merombak LIPNUR menjadi IPTN, Industri Pesawat Terbang Nusantara.






