“Kalau Gitu Jancuuk Sampiyan!” Multikulturalisme Humor Madura

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 5 Oktober 2020 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono  (Foto: Dok. Pribadi)

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono (Foto: Dok. Pribadi)

Perhatikan humor (10) ”Radio Transistor” dan humor (11) ”Surat Undangan”!

10) Saat ibadah haji, Brudin membeli sebuah radio transistor kecil di Jeddah. Setiap dihidupkan, yang terdengar selalu siaran dan lagu dalam bahasa Arab. Brudin mengira itu semua adalah orang mengaji Qu’ran dan musik qasidah.
Begitu kembali di kampung halaman, kepada semua tamu ia memamerkan bahwa radionya hanya mau menyiarkan pengajian dan lagu qasidah. Ketika kemudian disetel, yang terdengar ternyata adalah siaran dalam bahasa Indonesia, bahasa Madura, dan lagu-lagu dangdut. ”Aneh sekali radio ini,” kata Brudin. ”Waktu di Arab ia pandai mengaji tanpa henti. Tapi di sini, kok jadi bodoh. Aneh …”

11) Brudin menghadiri undangan resepsi pernikahan bersama seorang nenek-nenek bungkuk yang jalannya perlu dibimbing. Penerima tamu heran.

”Pak Brudin, istri Bapak tidak ikut, Pak? Lalu, nenek ini siapa?” tanyanya.
”Lho, pada surat undangan yang sampiyan kirim kan menyebutkan bersama Ibu. Ya saya datang bersama ibu. Ini ibu saya sendiri. Istri saya tidak ikut, kan tidak sampiyan sebut,” jawabnya.
”Maksud kami, … bersama Ny. Brudin, istri Bapak.” penerima tamu menjelaskan.
Dengan nada sedikit naik, Pak Brudin menjawab, ”Sampiyan jangan mempermainkan saya…!”

Humor ini juga mengkonstruksi pesan tertentu yang lebih kurang menganggap bodoh etnis Madura. Ia pastilah lahir dari etnis lain yang motifnya merendahkan—ethnic slur. Adalah realitas bahwa sesungguhnya tidak hanya etnis Madura yang kompetensi berbahasa Indonesianya sebagai media komunikasi lintasetnis masih kurang memadai.

Banyak juga etnis Jawa dan Sunda, misalnya, terutama di pedesaan, yang mungkin akan mempersepsinya sama seperti Pak Brudin dalam (11).

Rendahnya penguasaan bahasa lain—termasuk artikulasi pronunciation—yang potensial melahirkan kesalahpahaman komunikasi lintasetnis (Mulyana, 2002; Jupriono, 2006), rupanya menjadi sumber yang tak pernah kering bagi penciptaan humor (Jupriono, 2009). Misalnya humor (12) ”Sateeede!” dan (13) ”Viagra 1”, perhatikan!

12) Seorang pemuda lulusan SMU ikut tes masuk akademi pariwisata di Surabaya. Tes I, tes II, ia lolos. Tetapi, pada tes akhir (tes bahasa Inggris) ia gagal dengan sebab sepele.

”Bahasa Inggrisnya hari Senin apa?”
”Monday” (dengan logat Maduranya yang kental)
”Kalau Selasa?”
”Tuesday.” Hal ini berlangsung terus sampai ….
”Nah, kalau hari Sabtu?”
”Sateeede!” (maksudnya Saturday) dengan logat khas layaknya penjual sate.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru