Perhatikan humor (10) ”Radio Transistor” dan humor (11) ”Surat Undangan”!
10) Saat ibadah haji, Brudin membeli sebuah radio transistor kecil di Jeddah. Setiap dihidupkan, yang terdengar selalu siaran dan lagu dalam bahasa Arab. Brudin mengira itu semua adalah orang mengaji Qu’ran dan musik qasidah.
Begitu kembali di kampung halaman, kepada semua tamu ia memamerkan bahwa radionya hanya mau menyiarkan pengajian dan lagu qasidah. Ketika kemudian disetel, yang terdengar ternyata adalah siaran dalam bahasa Indonesia, bahasa Madura, dan lagu-lagu dangdut. ”Aneh sekali radio ini,” kata Brudin. ”Waktu di Arab ia pandai mengaji tanpa henti. Tapi di sini, kok jadi bodoh. Aneh …”
11) Brudin menghadiri undangan resepsi pernikahan bersama seorang nenek-nenek bungkuk yang jalannya perlu dibimbing. Penerima tamu heran.
”Pak Brudin, istri Bapak tidak ikut, Pak? Lalu, nenek ini siapa?” tanyanya.
”Lho, pada surat undangan yang sampiyan kirim kan menyebutkan bersama Ibu. Ya saya datang bersama ibu. Ini ibu saya sendiri. Istri saya tidak ikut, kan tidak sampiyan sebut,” jawabnya.
”Maksud kami, … bersama Ny. Brudin, istri Bapak.” penerima tamu menjelaskan.
Dengan nada sedikit naik, Pak Brudin menjawab, ”Sampiyan jangan mempermainkan saya…!”
Humor ini juga mengkonstruksi pesan tertentu yang lebih kurang menganggap bodoh etnis Madura. Ia pastilah lahir dari etnis lain yang motifnya merendahkan—ethnic slur. Adalah realitas bahwa sesungguhnya tidak hanya etnis Madura yang kompetensi berbahasa Indonesianya sebagai media komunikasi lintasetnis masih kurang memadai.
Banyak juga etnis Jawa dan Sunda, misalnya, terutama di pedesaan, yang mungkin akan mempersepsinya sama seperti Pak Brudin dalam (11).
Rendahnya penguasaan bahasa lain—termasuk artikulasi pronunciation—yang potensial melahirkan kesalahpahaman komunikasi lintasetnis (Mulyana, 2002; Jupriono, 2006), rupanya menjadi sumber yang tak pernah kering bagi penciptaan humor (Jupriono, 2009). Misalnya humor (12) ”Sateeede!” dan (13) ”Viagra 1”, perhatikan!
12) Seorang pemuda lulusan SMU ikut tes masuk akademi pariwisata di Surabaya. Tes I, tes II, ia lolos. Tetapi, pada tes akhir (tes bahasa Inggris) ia gagal dengan sebab sepele.
”Bahasa Inggrisnya hari Senin apa?”
”Monday” (dengan logat Maduranya yang kental)
”Kalau Selasa?”
”Tuesday.” Hal ini berlangsung terus sampai ….
”Nah, kalau hari Sabtu?”
”Sateeede!” (maksudnya Saturday) dengan logat khas layaknya penjual sate.





