Perhatikan humor (5) ”Pedagang Telur”!
5) Seorang ibu PKL menjajakan telornya di Pelabuhan Kamal. Salah seorang turis domestik (dari Semarang) tertarik untuk beli oleh-oleh buat keluarga, maka ia mendekati penjual telor.
Penjual: ”Telor telor! Mari, Mas, telurnya sar-besar, teng-ganteng nih kayak yang beli.
Turis: ”Ini telur ayam ya, Bu?”
Penjual: ”Ya, telor ayam. Murah, sar-besar.”
(Turis domestik kelihatan memegang-megang semua telor. Belum ada tanda-tanda mau membeli. Penjual mulai tak sabar).
Turis: ”Segini kok besar to, Bu. Kecil-kecil gini lho. Kalau saya pingin telur ayam yang besar-besar, buat oleh-oleh”.
(Rayuannya nggak mempan dan dagangannya dikritik, kontan penjual balik ke sifat aslinya, lupa akan semangat enterpreneurship-nya).
Penjual: ”Sampiyan iku yok opo sih, Cak?! Ini kan sudah ukuran dari sananya! Lha nek nuruti sampeyan, dobol kabeh silite pitik. Ganteng-ganteng … goblok!”.
Dengan berpayung pada perspektif interpretif-subjektif, yang mencoba berempati kepada etnis Madura, dapat dimengerti kekesalan ibu pedagang telor: sudah lama memilih-milih, tak segera menawar, mengkritik lagi!
Akan tetapi, dalam dunia bisnis, pembeli harus diperlakukan layaknya seorang raja. Secerewet apa pun, senyinyir apa pun, calon pembeli mesti dihormati—itulah prinsip dasar berdagang, sebagai salah satu wujud semangat entrepreneurship.
Humor (5) adalah produk stereotipe yang dilekatkan oleh orang-orang non-Madura. Di sini pedagang beretnis Madura distereotipekan berkarakter tidak sabar, kasar, mau menangnya sendiri, dan temperamental (de Jonge, 1995; Bouvier, 2002).
Sebagai stereotipe, tentu saja persepsi tentang karakter-karakter ini dilebih-lebihkan dan digeneralisasi, sehingga tidak selalu benar dan seringkali mendistorsi realitas (Rogers & Steinfatt, 1999: 228).
Cukup banyak humor etnis Madura yang berbalut stereotipe, misalnya lagi humor (6) ”Pedagang Pisang” dan (7) ”Pedagang Jeruk”.
6) Penjual: ”Pisang tanduk, pisang tanduk, … panjang, besar, manis. Silakan pilih”.
Pembeli: ”Ah …, pisangnya kecil-kecil pendek-pendek begini lho….!”
Penjual: ”Boo-aboo …, kalau seperti ini dibilang cil-kecil, dek-pendek, ya beli sajja belalainya gajah!”
7) Pembeli: “Jeruknya manis, Pak?”
Penjual: “Silakan dicoba, Mbak.”.
Pembeli: “Baiklah. Saya beli sekilo.”
(Sesampai di rumah, jeruk dimakan. Ternyata semuanya kecut. Maka, sambil marah didatangilah penjual jeruk itu)
Pembeli: ”Bapak ini bohong! Jeruk kecutnya kayak gitu kok dibilang manis”.
Penjual: ”Boo-abbo, sampiyan jangan marah dulu. Yang bilang manis ’kan sampiyan. Saya cuma bilang “silakan coba”, kan? Saya suruh nyoba, sampai langsung beli. Dan lagi …, sampiyan jangan dit-medit. Cuma beli sekilo, sampiyan sudah marah. Lihat …, saya yang terlanjur tiga karung … nang-tenang saja. Nggak rah-marah kayak sampiyan”.






