“Kalau Gitu Jancuuk Sampiyan!” Multikulturalisme Humor Madura

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 5 Oktober 2020 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono  (Foto: Dok. Pribadi)

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono (Foto: Dok. Pribadi)

Perhatikan humor (5) ”Pedagang Telur”!

5) Seorang ibu PKL menjajakan telornya di Pelabuhan Kamal. Salah seorang turis domestik (dari Semarang) tertarik untuk beli oleh-oleh buat keluarga, maka ia mendekati penjual telor.

Penjual: ”Telor telor! Mari, Mas, telurnya sar-besar, teng-ganteng nih kayak yang beli.
Turis: ”Ini telur ayam ya, Bu?”
Penjual: ”Ya, telor ayam. Murah, sar-besar.”
(Turis domestik kelihatan memegang-megang semua telor. Belum ada tanda-tanda mau membeli. Penjual mulai tak sabar).
Turis: ”Segini kok besar to, Bu. Kecil-kecil gini lho. Kalau saya pingin telur ayam yang besar-besar, buat oleh-oleh”.
(Rayuannya nggak mempan dan dagangannya dikritik, kontan penjual balik ke sifat aslinya, lupa akan semangat enterpreneurship-nya).
Penjual: ”Sampiyan iku yok opo sih, Cak?! Ini kan sudah ukuran dari sananya! Lha nek nuruti sampeyan, dobol kabeh silite pitik. Ganteng-ganteng … goblok!”.

Dengan berpayung pada perspektif interpretif-subjektif, yang mencoba berempati kepada etnis Madura, dapat dimengerti kekesalan ibu pedagang telor: sudah lama memilih-milih, tak segera menawar, mengkritik lagi!

Akan tetapi, dalam dunia bisnis, pembeli harus diperlakukan layaknya seorang raja. Secerewet apa pun, senyinyir apa pun, calon pembeli mesti dihormati—itulah prinsip dasar berdagang, sebagai salah satu wujud semangat entrepreneurship.

Humor (5) adalah produk stereotipe yang dilekatkan oleh orang-orang non-Madura. Di sini pedagang beretnis Madura distereotipekan berkarakter tidak sabar, kasar, mau menangnya sendiri, dan temperamental (de Jonge, 1995; Bouvier, 2002).

Sebagai stereotipe, tentu saja persepsi tentang karakter-karakter ini dilebih-lebihkan dan digeneralisasi, sehingga tidak selalu benar dan seringkali mendistorsi realitas (Rogers & Steinfatt, 1999: 228).

Cukup banyak humor etnis Madura yang berbalut stereotipe, misalnya lagi humor (6) ”Pedagang Pisang” dan (7) ”Pedagang Jeruk”.

6) Penjual: ”Pisang tanduk, pisang tanduk, … panjang, besar, manis. Silakan pilih”.
Pembeli: ”Ah …, pisangnya kecil-kecil pendek-pendek begini lho….!”
Penjual: ”Boo-aboo …, kalau seperti ini dibilang cil-kecil, dek-pendek, ya beli sajja belalainya gajah!”

7) Pembeli: “Jeruknya manis, Pak?”
Penjual: “Silakan dicoba, Mbak.”.
Pembeli: “Baiklah. Saya beli sekilo.”
(Sesampai di rumah, jeruk dimakan. Ternyata semuanya kecut. Maka, sambil marah didatangilah penjual jeruk itu)
Pembeli: ”Bapak ini bohong! Jeruk kecutnya kayak gitu kok dibilang manis”.
Penjual: ”Boo-abbo, sampiyan jangan marah dulu. Yang bilang manis ’kan sampiyan. Saya cuma bilang “silakan coba”, kan? Saya suruh nyoba, sampai langsung beli. Dan lagi …, sampiyan jangan dit-medit. Cuma beli sekilo, sampiyan sudah marah. Lihat …, saya yang terlanjur tiga karung … nang-tenang saja. Nggak rah-marah kayak sampiyan”.

Berita Terkait

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:34 WIB

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Berita Terbaru