13) Dengan nasihat tetangga yang dinggap pintar untuk urusan memuaskan istri di ranjang, Brudin memutuskan mengkonsumsi ”obat kuat” Viagra. Tetangga itu juga berpesan, di samping manfaat, minum Viagra juga ada risiko efek samping, tetapi ringan.
Setelah minum, hasilnya memuaskan. Istrinya makin sayang dan Brudin kian percaya diri. Tetapi, ada hal kecil yang berkaitan dengan efek samping. Maka didatanginya tetangganya tersebut keesokan harinya untuk berterima kasih dan menanyakan hal kecil tersebut.
”Sampiyan kan bilang ada efek samping. Ternyata ini sedikit beda. Yang saya alami, efeknya tidak ke samping, tapi ke depan …,” katanya.
Humor (13) dapat digolongkan ke dalam humor seksual. Seks adalah pokok persoalan yang paling banyak diangkat ke dalam lelucon semua etnis. Memang, jika mengingat religiusitas etnis Madura, ini akan terasa ironis.
Biarpun ironis, itu wajar-wajar saja dalam tradisi lisan. Humor agama yang mengangkat kehidupan pastor, suster biarawati, haji, dan kiai, misalnya, ternyata juga banyak yang berbasis seks (Dananjaya, 1984).
Meskipun demikian, berbeda dengan humor seksual etnis lain pada masyarakat yang berkultur patriarkis, yang umumnya mengobjekkan perempuan (Rakow & Kranich, 1991: 10), pada humor seksual Madura, lelakilah—dengan segala kebegoan dan kekonyolannya—yang menjadi objek. Humor (13), misalnya, jelas mengangkat kekonyolan lelaki.
Contoh lain dapat dibaca pada humor (14)”Viagra 2”.
14) Sukses seks rupanya disampaikan Brudin kepada temannya, Matali. Meski harganya mahal, viagra dibeli juga oleh Matali. Setelah berada di tangan, obat kuat itu dilihat-lihat, ditimang-timang. Ia heran, benda remeh seperti ini kok kashiatnya—kata Brudin—luar biasa! ”Sayang, harganya mahal,” gerutunya. Karena itu, ”Sayang sekali kalau langsung diminum habis,” katanya.
Maka, viagra itu hanya dijilat-jilati saja. Sepuluh menit kemudian, di luar dugaan, Matali merasakan ada bagian tubuhnya yang tegang mengeras. Tetapi, berbeda dari cerita Brudin, pada tubuh Matali yang tegang mengeras bukan penisnya, melainkan …. lidahnya!
Masih banyak humor etnis Madura berbasis kesalahpahaman bahasa dan kekonyolan. Sebagian diklasifikasikan ke dalam jenis humor netral, yang dibahas pada bagian berikut.
Humor Netral
Humor netral tentang etnis Madura mungkin diciptakan oleh kalangan internal, mungkin juga oleh eksternal etnis lain. Kata netral dalam klasifikasi ini hendaknya dipahami sebagai ’tidak merendahkan’ atau ’ada nada merendahkan, tetapi motif pujian kekagumannya lebih dominan’.
Lazimnya juga, sebagai produk folklor, humor netral berfungsi tunggal sebagai hiburan pelentur ketegangan suasana. Lagi-lagi harus dikatakan, ini menurut perspektif interpretif-subjektif penulis (Mulyana, 2001: 32—37).





