“Kalau Gitu Jancuuk Sampiyan!” Multikulturalisme Humor Madura

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 5 Oktober 2020 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono  (Foto: Dok. Pribadi)

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono (Foto: Dok. Pribadi)

Kedua, etnis Madura amat membela kehormatan harga diri dan mengekspresikannya. Intensitas semangatnya membela harga diri, di mata etnis non-Madura, berada dalam takaran berlebihan.

Karena itu, orang Madura pantang dihina, direndahkan, atau dipermalukan, sejalan dengan pepatah klasik ango’an apotèya tolang ètèmbang potèya mata, yang intinya kurang lebih ’lebih baik mati daripada menanggung malu’ (Rifa’i, 2007).

Bila demikian, secara tersirat, selama diperlakukan dengan baik, orang Madura juga tidak akan mempermalukan orang lain (ajjha’ nobi’an orèng mon aba’na ta’ enda’ ètobi’) (cf. de Jonge, 2002).

Harga diri merupakan nilai sangat mendasar bagi etnis Madura. Dasar harga diri adalah sifat malo dan todus (rasa malu). Bagi orang Madura, mempermalukan seseorang di muka umum dianggap menghina harga diri dan martabatnya.

Karena itu, lelaki yang tidak membalas penghinaan tersebut adalah lelaki yang tada’ ajina (tidak ada harganya). Apalagi, jika rasa malu itu menyangkut kehormatan keluarga, ia wajib mempertaruhkan nyawa untuk membelanya.

Dari sinilah tradisi sadis carok bermula (Wiyata, 2006). Lelaki Madura yang tidak berani membela kehormatan keluarganya akan diejek sebagai banci atau perempuan.

Orang Madura itu keras? Menurut Wiyata (2007), karakter orang Madura bukan keras, melainkan tegas memegang prinsip hidup—tegas dalam perangai, sikap, dan perilaku spontan dan ekspresif.

Orang Madura hampir tidak mengenal perangai, sikap dan perilaku ”basa-basi”—terutama di luar bhuppa’ bhabhu’ ghuru rato.

Sebagai produk budaya folklor, humor (1) berfungsi sebagai sistem proyeksi (Bascom & Wang dlm. Dananjaya, 1984), yang memantulkan angan-angan suatu kolektif, baik bagi Madura maupun etnis lain.

Bagi etnis lain, lelucon ini dapat menjadi media belajar mengenal karakter etnis Madura yang tegas, ekspresif, dan spontan, serta sangat menghormati aparat. Bagi etnis Madura sendiri, lelucon (1) menggemakan spirit keberanian menyuarakan hak.

Berita Terkait

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:34 WIB

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Berita Terbaru