Kedua, etnis Madura amat membela kehormatan harga diri dan mengekspresikannya. Intensitas semangatnya membela harga diri, di mata etnis non-Madura, berada dalam takaran berlebihan.
Karena itu, orang Madura pantang dihina, direndahkan, atau dipermalukan, sejalan dengan pepatah klasik ango’an apotèya tolang ètèmbang potèya mata, yang intinya kurang lebih ’lebih baik mati daripada menanggung malu’ (Rifa’i, 2007).
Bila demikian, secara tersirat, selama diperlakukan dengan baik, orang Madura juga tidak akan mempermalukan orang lain (ajjha’ nobi’an orèng mon aba’na ta’ enda’ ètobi’) (cf. de Jonge, 2002).
Harga diri merupakan nilai sangat mendasar bagi etnis Madura. Dasar harga diri adalah sifat malo dan todus (rasa malu). Bagi orang Madura, mempermalukan seseorang di muka umum dianggap menghina harga diri dan martabatnya.
Karena itu, lelaki yang tidak membalas penghinaan tersebut adalah lelaki yang tada’ ajina (tidak ada harganya). Apalagi, jika rasa malu itu menyangkut kehormatan keluarga, ia wajib mempertaruhkan nyawa untuk membelanya.
Dari sinilah tradisi sadis carok bermula (Wiyata, 2006). Lelaki Madura yang tidak berani membela kehormatan keluarganya akan diejek sebagai banci atau perempuan.
Orang Madura itu keras? Menurut Wiyata (2007), karakter orang Madura bukan keras, melainkan tegas memegang prinsip hidup—tegas dalam perangai, sikap, dan perilaku spontan dan ekspresif.
Orang Madura hampir tidak mengenal perangai, sikap dan perilaku ”basa-basi”—terutama di luar bhuppa’ bhabhu’ ghuru rato.
Sebagai produk budaya folklor, humor (1) berfungsi sebagai sistem proyeksi (Bascom & Wang dlm. Dananjaya, 1984), yang memantulkan angan-angan suatu kolektif, baik bagi Madura maupun etnis lain.
Bagi etnis lain, lelucon ini dapat menjadi media belajar mengenal karakter etnis Madura yang tegas, ekspresif, dan spontan, serta sangat menghormati aparat. Bagi etnis Madura sendiri, lelucon (1) menggemakan spirit keberanian menyuarakan hak.






