Dalam konteks humor ini, ketersinggungan warga Madura atas isi lelucon hendaknya diterima secara empatis sebagai ketersinggungan semua etnis.
Koeksistensi, Proeksistensi
Berdasarkan pembahasan di muka, dapat ditarik beberapa kata simpul berikut. HUmor etnis Madura dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok: positif, negatif, dan netral. HUmor netral dan positif sarat dengan menghibur, sedang yang negatif umumnya merendahkan etnis ini.
Humor negatif etnis Madura diduga kuat diciptakan oleh kalangan eksternal dengan berbasis etnosentrisme, stereotipe etnis, dan prasangka rasial.
Dalam rangka membangun komunikasi antaretnis yang bersuasana multikultural, terhadap humor etnis tersebut, warga Madura hendaknya bersikap lebih positif dengan memperkecil ketersinggungan dan prasangka serta menyadari bahwa lelucon sebagai produk folklor diciptakan tidak berdasarkan fakta, tetapi prasangka dan stereotipe.
Sementara, etnis lain hendaknya tidak mendasarkan penilaian berdasarkan stereotipe, prasangka, dan etnosentrisme, serta mengembangkan reinterpretasi terhadap lelucon etnis Madura dengan lebih mengapresiasi sisi positifnya.
Akhirnya, semua pihak hendaknya menumbuhkan motivasi saling mengenal, saling belajar memahami dan menerima perbedaan, menghormati kemerdekaan berekspresi, serta mengupayakan kualitas kehidupan bersama yang tidak sekadar koeksistensi, tetapi lebih dari itu juga proeksistensi.
Oleh : D. Jupriono, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com





