“Kalau Gitu Jancuuk Sampiyan!” Multikulturalisme Humor Madura

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 5 Oktober 2020 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono  (Foto: Dok. Pribadi)

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono (Foto: Dok. Pribadi)

Dalam konteks humor ini, ketersinggungan warga Madura atas isi lelucon hendaknya diterima secara empatis sebagai ketersinggungan semua etnis.

Koeksistensi, Proeksistensi

Berdasarkan pembahasan di muka, dapat ditarik beberapa kata simpul berikut. HUmor etnis Madura dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok: positif, negatif, dan netral. HUmor netral dan positif sarat dengan menghibur, sedang yang negatif umumnya merendahkan etnis ini.

Humor negatif etnis Madura diduga kuat diciptakan oleh kalangan eksternal dengan berbasis etnosentrisme, stereotipe etnis, dan prasangka rasial.

Dalam rangka membangun komunikasi antaretnis yang bersuasana multikultural, terhadap humor etnis tersebut, warga Madura hendaknya bersikap lebih positif dengan memperkecil ketersinggungan dan prasangka serta menyadari bahwa lelucon sebagai produk folklor diciptakan tidak berdasarkan fakta, tetapi prasangka dan stereotipe.

Sementara, etnis lain hendaknya tidak mendasarkan penilaian berdasarkan stereotipe, prasangka, dan etnosentrisme, serta mengembangkan reinterpretasi terhadap lelucon etnis Madura dengan lebih mengapresiasi sisi positifnya.

Akhirnya, semua pihak hendaknya menumbuhkan motivasi saling mengenal, saling belajar memahami dan menerima perbedaan, menghormati kemerdekaan berekspresi, serta mengupayakan kualitas kehidupan bersama yang tidak sekadar koeksistensi, tetapi lebih dari itu juga proeksistensi.

Oleh : D. Jupriono, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru