“Kalau Gitu Jancuuk Sampiyan!” Multikulturalisme Humor Madura

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 5 Oktober 2020 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono  (Foto: Dok. Pribadi)

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pemilik https://sastra-bahasa.blogspot.com, D Jupriono (Foto: Dok. Pribadi)

Meskipun demikian, lelucon semacam ini beredar di masyarakat dalam banyak versi, termasuk etnis yang dirujuk: tidak hanya Madura, tapi juga Jawa, Sunda, Bali, dll. Keragaman ini merupakan konsekuensi logis dari karakteristik generik tradisi lisan yang anonim, yang selalu eksis dalam berbagai versi, sebagai akibat dari interpolasi (modifikasi, penambahan, pengurangan; Dananjaya, 1984; Brunvand, 1968).

Beberapa humor netral berikut (17, 18, 19) malahan menggambarkan “kekonyolan cerdas”, “tangkas berkelit saat terpojok”. Mungkin saja ada pandangan bahwa ketiga lelucon lebih baik masuk lelucon negatif, sebab memperolok etnis Madura.

Penulis pribadi berpandangan bahwa ketiga lelucon tidak bermaksud merendahkan, tetapi justru diam-diam terselip simpati dan pengakuan betapa cerdas retorika etnis Madura. Perhatikan!

17) Guru: ”Dua hari yang lalu kamu terlambat, alasanmu hujan deras. Kemarin kamu juga terlambat. Lagi-lagi alasanmu hujan. Pagi ini terlambat lagi. Apa lagi alasanmu?”
Murid: ”Hujjan, Bu. Betul, saya nggak bohong.”
Guru: ”Lha kalau tiap pagi hujan terus, lalu bagaimana?”
Murid: ”Ya, banjjir, Bu!”.

18) Polisi: “Hee … becak kamu salah jalan. Kamu langgar rambu-rambu jalan. Dasar goblog!”
Tukang Becak: “Saya memang goblog, Pak. Kalau saya pintar, pasti sudah jadi polisi!”

19) Saat hujan deras disertai angin dan petir, seorang pedagang sate buang air kecil dekat pos Satpam di Perak, Surabaya. Sambil kencing, ia kentut lumayan keras, hingga terdengar di telinga Pak Satpam.
Satpam: “Kamu itu nggak sopan. Sudah kencing, kentut lagi!”
Tukang sate: “Boo-aboo … mosok kencing nggak boleh kentut. Wong hujan juga ada petirnya.”

MULTIKULTURALISME HUMOR MADURA

Komunikasi antaretnis di Indonesia—termasuk antara Madura dan etnis lain—senantiasa berbalut etnosentrisme, stereotipe etnis, dan prangsaka rasial.

Ketiganya menjadi kendala serius bagi terbentuknya komunikasi antaretnis yang mengembangkan toleransi, saling menghargai perbedaan, serta mengakui hak dan keberadaan satu sama lain (Budianta, 2005). Dengan kata lain, ketiganya akan menghambat terbentuknya masyarakat yang multikultural.

Semua elemen bangsa ini hendaknya menyadari bahwa untuk masyarakat Indonesia yang majemuk (plural agama, etnis/suku/ras, partai politik, golongan, adat daerahnya, dll.), pandangan multikulturalisme adalah keharusan, bukan lagi pilihan. Dalam hal demikian multikulturalisme hendaknya dibedakan dari pluralisme.

Pluralisme sekadar memandang dan mengakui keberagaman, tetapi masih memungkinkan terjadinya dominasi hegemonis antarkolektif, sehingga tidak menjamin terciptanya ruang publik yang relatif sama untuk berekspresi di antara kolektif/etnis (Rozi, 2003).

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru