Karena itu, lenyap atau sekadar lunturnya etnosentrisme, stereotipe, dan prasangka sulit diharapkan. Dalam suasana sosial seperti ini, yang ada adalah melulu saling curiga, sehingga, jangankan angkuh, “ramah pun dikonotasikan negatif” (Astro, 2006).
Sementara, multikulturalisme memandang penting perbedaan dalam kesederajatan antaretnis, sehingga tidak terjadi relasi timpang dominasi-subordinasi hegemonis (Watson, 2000; Sparringa, 2005).
Dalam masyarakat yang dipayungi oleh spirit multikulturalisme, toleransi antaretnis dikembangkan, perbedaan dalam suasana egaliter diakui, sehingga etnosentrisme, stereotipe, dan prasangka otomatis meluntur.
Sesuai dengan pokok persoalan diskusi tentang humor etnis Madura, dengan ungkapan yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa kekhasan dan eksotika budaya dan karakter warga Madura harus diakui dan dihargai, tidak boleh diremehkan, direndahkan, apalagi dihina dan dilecehkan!
Sebaliknya, warga Madura harus pula mengakui, menghargai, tidak meremehkan, merendahkan, menghina, dan melecehkan kekhasan dan eksotika budaya dan karakter warga etnis-etnis lain. Prinsip ini adalah harga mati—tidak ada tawar-menawar!
Berdasarkan prinsip multikultural ini, harus ada sikap baru, tafsir ulang (reinterpretasi) terhadap humor-humor etnis Madura, baik dari etnis lain maupun etnis Madura sendiri. Sebab, sekalipun hanya lelucon, ia tidak sekadar bisa menghibur, tetapi juga sanggup memicu ketersinggungan harga diri.
Sikap baru dan reinterpretasi tersebut diharapkan dapat memperlemah prasangka, stereotipe, dan etnosentrisme antaretnis.
Untuk mencapai masyarakat plural yang multikultural (cf. Sutarto, 2004), pada warga etnis Madura hendaknya dibangun-kembangkan persepsi dan sikap lebih positif sbb.
(a) Etnis Madura hendaknya memahami bahwa setiap etnis senantiasa menarik bagi etnis lain untuk mengangkatnya sebagai bahan lelucon.
(b) Jika merasa bahwa porsi bagi etnisnya dalam lelucon lebih besar ketimbang etnis lain, warga Madura hendaknya bersyukur dan berpikir positif bahwa tradisi dan karakter etnis Madura memang lebih artistik, eksotik, dan menarik ketimbang etnis lain (cf. Najib, 2009), jadi justru harus bangga. Peniruan logat Madura yang mendominasi dunia pergaulan dan media massa, lelucon-lelucon etnis Madura yang dilontarkan tokoh-tokoh nasional, dengan demikian, seyogianya dipahami sebagai bentuk pengakuan dan kekaguman (cf. Adnan, 2006).





