Baiklah, berikut dipaparkan sekaligus dua lelucon, (15) ”Wortel Impor” dan (16) ”Susu”.
15) Sarip: ”Biarpun wortel banyak vitamin A-nya, kalau wortel impor yang de-gede itu justru bisa menyebabkan pendarahan di mata. Jadi kamu harus ti-hati, Di.”
Paidi: ”Ah, mosok sih. Nek saeruhku, wortel itu dalam negeri atau impor bagus untuk kesehatan mata kita….”
Sarip: ”Koen ojo’ ngeyel, Di. Mata ini bisa berdarah betul lho …”
Paidi: ”Ah, gak mungkin!”
Sarip: ”Nek gak percoyo, wortel impor iku culekno ndik matamu, … nanti pasti berdarah!”
16) Gozali: ”Susu itu tidak baik di mata.”
Marlena: ”Sampiyan itu yo’opo sih, … dari dulu susu itu bagus untuk kesehatan kita.”
Gozali: ”Iya, aku ngerti, Mbak. Tapi tetap nggak baik di mata.”
Marlena: ”Kok bisa begitu, … alasan sampiyan apa?”
Gozali: ”Susu memang nggak baik di mata. Baiknya di dada. Coba kalau nempel di mata, ’kan kayak tumor, malah nutupi, kita mana bisa melihat ta’iye.”
Sebagai lelucon etnis yang berbasis kesalahpahaman bahasa, humor ini membangun efek humornya melalui perbedaan menafsirkan praanggapan tuturan (presupposition, Levinson, 1995) pada (15) dan ketaksaan semantis (ambiguity, Raskin, 1985) pada (16).
Dialog Sarip Madura dan Paidi Jawa (15) akan ideal jika saja keduanya sama-sama membangun satu praanggapan berdasarkan implikasi konvensional berupa pengetahuan dunia bahwa wortel itu makanan yang kaya vitamin A, karenanya cocok untuk kesehatan mata.
Praanggapan tersebut malahan juga dapat dibangun berdasarkan implikasi konversasionalnya, misalnya saat Sarip menyebut wortel dan vitamin A., maka pastilah bersangkutan dengan aktivitas makan, bukan yang lain (diculekno, ‘dicolokkan’).
Demikian juga pada (16), kesalahpahaman itu tidak akan terjadi jika Gozali dan Marlena sama-sama membangun satu tafsir yang lazim bahwa susu yang dimaksud adalah ‘tetek, payudara’ dan bukan ‘minuman’. Tentu saja, disadari benar, dalam lelucon itu disengaja sebagai siasat untuk membangun efek humor.
Mereka yang mengenal budaya arek (Jawa Timur) (Sutarto, 2004) akan segera menangkap pesan rasial bahwa Sarip, Gozali, Marlena etnis Madura, sedang Paidi Jawa. Penggunaan nama-nama itu juga bukan kebetulan.
Pada umumnya masyarakat mengetahui bahwa Sarip dan Paidi, misalnya, masing-masing adalah nama populer tokoh protagonis dan antagonis cerita ludruk ”Sarip Tambakoso” (Supriyanto, 1994; Poerbowati, 2007), sedang Marlena memang betul-betul nama artis pelawak terkenal, yang bicaranya berlogat medok Madura.





