Dalam wacana (5) terjadi pelanggaran terhadap maksim kuantitas, baik oleh penutur Pak Harto maupun petani. Dari perspektif maksim kuantitas, Pak Harto terlalu banyak mengobral desakan, sedang petani mengatakan sesuatu yang terlalu sedikit.
Petani tersebut tidak menjelaskan alasan lengkap mengapa ia justru meminta agar Pak Harto tidak “mempublikasikan” jasanya. Justru keanehan pelanggaran maksim inilah yang membangun humor.
Makna pesan yang terselip dalam HGD ini adalah sikap suka sok (sombong) seorang penguasa yang berantitesis dengan ketulusan dan kesederhanan rakyat jelata.
Di sini juga terdapat parodi satiris bahwa di zaman yang serba otoriter semasa Orba, menolong orang pun takut. Kemungkinan lainnya adalah kesadaran petani bahwa diam- diam banyak orang tidak suka pada Pak Harto.
Maka, ia pun tidak mau dikabarkan telah menolong orang yang tidak disukai banyak orang itu.
Contoh lain pelanggaran maksim kualitas adalah penuturan GD tentang pidato sambutan seorang kiai desa kepada rombongan bupati yang berkunjung ke pondok pesantrennya (Adnan, 2000 4-5).
“Bapak Bupati yang terhormat,” katanya, “kami sudah membangun beberapa kamar mandi dan saudara-saudaranya.”
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






