Humor Gus Dur : Multikulturalisme-Inklusif vs Sektarianisme-Inklusif 1

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 14 Januari 2021 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. /Instagram.com/@gusdur_fans.

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. /Instagram.com/@gusdur_fans.

Dalam wacana (5) terjadi pelanggaran terhadap maksim kuantitas, baik oleh penutur Pak Harto maupun petani. Dari perspektif maksim kuantitas, Pak Harto terlalu banyak mengobral desakan, sedang petani mengatakan sesuatu yang terlalu sedikit.

Petani tersebut tidak menjelaskan alasan lengkap mengapa ia justru meminta agar Pak Harto tidak “mempublikasikan” jasanya. Justru keanehan pelanggaran maksim inilah yang membangun humor.

Makna pesan yang terselip dalam HGD ini adalah sikap suka sok (sombong) seorang penguasa yang berantitesis dengan ketulusan dan kesederhanan rakyat jelata.

Di sini juga terdapat parodi satiris bahwa di zaman yang serba otoriter semasa Orba, menolong orang pun takut. Kemungkinan lainnya adalah kesadaran petani bahwa diam- diam banyak orang tidak suka pada Pak Harto.

Maka, ia pun tidak mau dikabarkan telah menolong orang yang tidak disukai banyak orang itu.

Contoh lain pelanggaran maksim kualitas adalah penuturan GD tentang pidato sambutan seorang kiai desa kepada rombongan bupati yang berkunjung ke pondok pesantrennya (Adnan, 2000 4-5).

“Bapak Bupati yang terhormat,” katanya, “kami sudah membangun beberapa kamar mandi dan saudara-saudaranya.”

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Ragnarok Zero: Global Resmi Diluncurkan pada 18 Agustus

Senin, 17 Agu 2026 - 23:38 WIB