“Bukan begitu…,” jawab GD. “Kalau makelar motor ‘kan kita bisa ngelapi, nyobain, lalu numpaki. Coba, mana bisa begitu kalau jadi makelar kawinan? Jangankan numpaki, mencet ‘klaksonnya’ saja dilarang…” (Adnan, 2000: 28)
Ketika Grice (Levinson, 1995; Yule, 1996) menyarankan agar penutur hendaknya senantiasa mengatakan sesuatu dengan jelas, menghindari ketaksaan, justru dalam wacana (11) GD menyimpangkannya.
Dari sisi bahasa, kata-kata ngelapi, nyobain, numpaki, mencet dapat bernuansa porno. Walaupun demikian, dapat saja justru kata-kata tersebut dalam konteks tuturan (11) sudah jelas acuannya. Hal demikian tentu saja amat disadari oleh GD. Kesengajaan pelanggaran maksim cara ini memicu lahirnya HGD.
Aspek lain dalam maksim cara adalah bahwa informasi hendaknya disampaikan dengan runtut (Grice dalam Yule, 1996; Samsuri, 1997). Dalam wacana HGD, keruntutan itu sengaja dilanggarnya sebab justru dengan pelanggaran inilah efek lucu suatu tuturan dapat terjadi. Perhatikan wacana (12) ketika GD memberikan pengarahan di depan peserta Muktamar I PKB di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada Rabu, 26 Juli 2000, berikut!
- Ada dua loket di surga. Satu loket yang bertuliskan SUAMI TAKUT ISTRI ramai dipenuhi orang antre. Loket satunya lagi bertulisan SUAMI TIDAK TAKUT ISTRI. Yang antre hanya satu orang, kecil lagi. Seorang lelaki perkasa dari antrean panjang itu penasaran dan tidak tahan untuk tidak bertanya, “Pak, sudah benar Sampeyan di loket ini? Jangan-jangan keliru…”
“Sudah. Memang di sini loket saya,” jawab lelaki sendirian itu mantap. “Berarti Sampeyan benar- benar lelaki yang tidak di bawah kekuasaan istri,” komentar lelaki perkasa.
“Bukan begitu… Saya disuruh istri saya di loket sini,” jawabnya melemah. (Rekaman, AHS, 26 Juli 2000).
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






