- Suatu ketika seorang tentara danramil (komandan rayon militer) memberikan khotbah Jumat. Setiap khotbah Jumat, seorang khotib selalu mengajak jamaah bertakwa. Lazimnya, khotib mengatakan, “Marilah kita bertakwa kepada Allah Swt…!”
Tetapi, karena khotib kali ini seorang tentara, “bahasa tentara”-nya pun keluar. Sehabis mengajak takwa, ada tambahan, “… Awas ya, kalau tidak!” (Adnan, 2000: 7-8)
Dalam konteks beribadah di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa bahasa yang digunakan hendaklah tindak tutur yang santun. Kesantunan itu diwujudkan dalam ungkapan yang sejuk dan simpatik, bukan teriakan keras, garang, dan mengancam. Dalam perspektif Leech (Crystal, 1997; Levinson, 1995), menunjukkan rasa simpati kepada pihak lain akan membangun suasana interaktif- komunikatif, sehingga transformasi pesan-pesan keagamaan dapat efektif sampai tujuan (Wahid, 1999; 2000). Tentu saja, wacana (15) memang diekstremkan. Setegas-tegas seorang tentara, jika berdiri sebagai khotib di hadapan jamaah di “rumah tempat bersujud pada Tuhan”, pastilah ia bertindak tutur dengan sejuk dan simpatik. Selain itu, ajakan santun persuasif semacam “Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt!” memang sudah menjadi idiom standar formal ritus peribadatan salat Jumat di belahan masyarakat muslim mana pun!
Akan tetapi, justru di sinilah situasi humor terletak. Penjungkirbalikan kesejukan situasi ibadah dicampurbaur dengan kevulgaran aroma militer melahirkan situasi humor. Inilah sudut pandang Teori Bisosiasi (Jupriono, 2000). Tampaknya humor ini merupakan sindiran tajam dan parodi satiri s yang cukup kena yang ditujukan kepada sekelompok orang dan organisasi massa (ormas) intoleran yang selama ini memposisikan diri dan akhirnya diposisikan masyarakat sebagai pihak yang ditakuti. Sebagai kelompok yang sehari-hari akrab dengan bahasa kekerasan dalam paradigma pendekatan keamanan (security approach), yang menyelusup mewarnai seluruh segi kehidupan sepanjang rezim Orde Baru, mereka sering dihujani kritik yang makin hari makin tajam. HGD juga tidak ketinggalan, hanya bentuknya khas GD: lelucon HGD.
PARAMETER PRAGMATIK HUMOR GUS DUR
Ada tiga paramater pragmatik, menurut Brown dan Levinson (Levinson, 1995; Wijana, 1996), sebagai alat ukur kesantunan dan kepatutan tindak tutur seseorang, yaitu (a) jarak sosial, (b) status sosial, dan (c) peringkat tindak tutur. Parameter jarak sosial dilihat dari keakraban antara penutur dan lawan tutur dengan mempertimbangkan perbedaan usia, jenis kelamin, dan latar belakang sosial budaya (cf. Wodak, 1996; Samsuri, 1997). Cermatilah wacana (16) berikut.
- Ketika pidato pertama kali seuasi dilantik MPR, Gus Dur mengemukakan beberapa hal penting. Misalnya tentang pemulihan ekonomi, pemulihan citra Indonesia di mata internasional, penegakan kedaulatan hukum, pemberantasan KKN, dll., dengan serius, seperti lazimnya seorang presiden berpidato.
Akan tetapi, setelah lima belas menit, Gus Dur mengakhiri pidatonya dengan penutup aneh, “Saya harus segera mengakhiri pembicaraan ini sebab … makin banyak saya bicara, makin banyak yang nanti harus saya pertanggungjawabkan.” (Basyaib & Hermawan, 2000: 50)
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






