“Belum, Gus…”
“Sampeyan betul-betul ingin ketemu?” “Betul, Gus.”
“Sampeyan tahu …”
“Ada apa, Gus?” Si tamu makin penasaran.
“Begini-begini, … saya juga kepingin ketemu,” kata GD ringan. Orang-orang di ruangan itu tergelak, sementara tamu klenik itu tersipu. (Adnan, 2000: 66)
Menurut cara pandang Brown dan Levinson (Levinson, 1995; Samsuri, 1997), dalam kapasitasnya sebagai kiai–bahkan tidak sedikit yang menganggapnya seorang wali–GD dituntut secara sosiokultural agar senantiasa menjaga statusnya, baik dalam tindakan maupun (terutama) tuturan. Justru dalam tuturan lisan inilah “kelemahan” GD. Sebagai seorang kiai, GD dituntut bersikap tegas hanya percaya kepada Tuhan dan tidak perlu ikut-ikutan terseret arus masyarakat awam yang tergila- gila urusan klenik macam keinginan bertemu Nyi Roro Kidul. Tentu saja, meski mengatakan Begini- begini, saya juga kepingin ketemu, pastilah GD hanya berkelakar. Kalau itu kiai lain, pernyataan yang keluar mungkin kalimat marah emosional sambil diselipkan ayat-ayat suci yang mengharamkan klenik. Tetapi, GD adalah GD, bukan kiai biasa…
Parameter terakhir adalah peringkat tindak tutur yang diketahui dari relativitas tingkat keburu- buruan (kemendesakan) dalam situasi pertuturan. Contoh berikut menggambarkan betapa mestinya seseorang harus bertindak buru-buru dalam situasi mendesak darurat, malah melakukan tindakan lain yang kontraproduktif. Perhatikan wacana (20) berikut.
- Seorang pemuda terluka tertindih sepeda motornya dalam suatu kecelakaan di sekitar warga massa PKB. “Tolong … tolonglah saya …!” rintihnya kesakitan.
Beberapa orang mengerumumi, tidak langsung menolong, tetapi malah bertanya, “Kamu Islam atau bukan?”
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






