Humor Gus Dur : Multikulturalisme-Inklusif vs Sektarianisme-Inklusif 1

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 14 Januari 2021 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. /Instagram.com/@gusdur_fans.

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. /Instagram.com/@gusdur_fans.

“Belum, Gus…”

“Sampeyan betul-betul ingin ketemu?” “Betul, Gus.”

“Sampeyan tahu …”

“Ada apa, Gus?” Si tamu makin penasaran.

“Begini-begini, … saya juga kepingin ketemu,” kata GD ringan. Orang-orang di ruangan itu tergelak, sementara tamu klenik itu tersipu. (Adnan, 2000: 66)

Menurut cara pandang Brown dan Levinson (Levinson, 1995; Samsuri, 1997), dalam kapasitasnya sebagai kiai–bahkan tidak sedikit yang menganggapnya seorang wali–GD dituntut secara sosiokultural agar senantiasa menjaga statusnya, baik dalam tindakan maupun (terutama) tuturan. Justru dalam tuturan lisan inilah “kelemahan” GD. Sebagai seorang kiai, GD dituntut bersikap tegas hanya percaya kepada Tuhan dan tidak perlu ikut-ikutan terseret arus masyarakat awam yang tergila- gila urusan klenik macam keinginan bertemu Nyi Roro Kidul. Tentu saja, meski mengatakan Begini- begini, saya juga kepingin ketemu, pastilah GD hanya berkelakar. Kalau itu kiai lain, pernyataan yang keluar mungkin kalimat marah emosional sambil diselipkan ayat-ayat suci yang mengharamkan klenik. Tetapi, GD adalah GD, bukan kiai biasa…

Parameter terakhir adalah peringkat tindak tutur yang diketahui dari relativitas tingkat keburu- buruan (kemendesakan) dalam situasi pertuturan. Contoh berikut menggambarkan betapa mestinya seseorang harus bertindak buru-buru dalam situasi mendesak darurat, malah melakukan tindakan lain yang kontraproduktif. Perhatikan wacana (20) berikut.

  • Seorang pemuda terluka tertindih sepeda motornya dalam suatu kecelakaan di sekitar warga massa PKB. “Tolong … tolonglah saya …!” rintihnya kesakitan.

Beberapa orang mengerumumi, tidak langsung menolong, tetapi malah bertanya, “Kamu Islam atau bukan?”

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Ragnarok Zero: Global Resmi Diluncurkan pada 18 Agustus

Senin, 17 Agu 2026 - 23:38 WIB