Besoknya, santri itu “mencuri” kambing milik kiai. Kambing itu dipotong, dimasak ramai-ramai. Tahu kambingnya lenyap, kiai melakukan penyelidikan. “Hayo, siapa yang mencuri kambing saya?”
Sang santri menjawab kalem, “Saya memang mencuri kambing, Kiai. Tetapi, kambing itu kambingnya Gusti Allah.”
Sang Kiai menyahut loyo, “Sekalipun milik Allah, tetapi ya jangan yang besar-besar begitu …!” (Adnan, 2000: 6)
Tidak penting apakah ini sungguh-sungguh terjadi ataukah hanya rekaan GD. Yang jelas, di sini kedua penutur sama-sama memberikan informasi yang tidak tepat dan tidak dapat menunjukkan bukti yang cukup wajar dalam konvensi tuturan sehari-hari, seperti yang dituntut Grice (Yule, 1996; Levinson, 1995).
Bahkan, tuturan ini menunjukkan kebohongan yang disengaja. Kebohongan ini tampak wajar dan rasional, tetapi sebetulnya kewajaran yang diwajar-wajarkan dan kerasionalan yang dirasional-rasional-kan. Inilah yang memicu lahirnya HGD.
Bahwa GD mengangkat pesantren dan relasi kiai-santri yang memuliakan nilai kejujuran dan menjauhi kedustaan sebagai latar yang dipadu dengan kebohongan dalam wacana ini menunjukkan keberanian GD sekaligus sebagai upaya menghumanisasikan kiai agar tidak dimitoskan seperti yang terjadi selama ini.
Contoh lain pelanggaran maksim kualitas adalah debat kusir antarpemuka agama tentang siapa yang paling dekat dengan Tuhan. Perhatikan wacana (7) berikut!
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






