ideologi, aliran, dll. (Wahid, 1998; 1999). Jika orang terhegemoni oleh pikiran sektarian, jiwa manusia pun mudah dinomorduakan (Wahid, 2000). Kemanusiaan, pluralitas, multikulturalisme, dan inklusivitas adalah obsesi GD. Maka, menghadapi sekelompok kaum yang masih eksklusif dan sektarianistik seperti ini, GD pun mengkritiknya, bukan dengan bahasa emosional, tetapi dengan lelucon khasnya: HGD. Begitulah pada dasarnya humor Gus Dur menggelar spirit multikulturalisme-inklusif vs sektarianisme-inklusif
BEBERAPA AGENDA KE DEPAN
Dari pembahasan panjang lebar di muka, dapat ditarik beberapa simpulan. (i) HGD tidak memenuhi maksim tutur Grice, baik maksim kuantitas, kualitas, relevansi, maupun maksim cara; keempat maksim dilanggarnya. (ii) HGD tidak memenuhi prinsip kesantunan Leech, baik maksim kebaikhatian, kemurahatian, peneri¬maan, kerendahhatian, kecocokan, dan maksim simpati; dengan demikian, tidak satu pun maksim kesantunan yang tidak dilanggar. (iii) HGD tidak sesuai dengan parameter pragmatik Brown & Levinson, baik parameter jarak sosial, status sosial, maupun peringkat tindak tutur; ketiga-tiganya dilanggar. Dengan kata lain, dalam wacana HGD terjadi pelanggaran terhadap tiga belas rambu-rambu tindak tutur.
Penelitian ini merupakan upaya awal untuk memahami lelucon GD dari perspektif pragmatik kewacanaan, terutama dari tindak tutur, untuk mengimbangi kajian-kajian retoris Presiden RI sebelum GD, yang sudah ada, misalnya retorika Bung Karno (Hooker, 1996), retorika Suharto (Eriyanto, 2000), dan retorika Habibie (Muslich, 2001). Tentu saja beberapa kelemahan tersembunyi di dalam-nya. Berdasarkan kelemahan itu, beberapa saran diajukan di sini. (1) Materi humor verbal hendaknya dikomprehensifkan dari berbagai sumber, mengingat lelucon tentang dan dari GD tersebar di mana- mana. (2) Perspektif analisis yang digunakan hendaknya dilanjutkan aspek-aspek lain analisis wacana, misalnya saja implikatur percakapan, presuposisi, keterpaduan dan keruntutan, serta prinsip interpretasi lokal dan analogi, dan juga kemungkinan kekacauan-kekacauan wacana (disorders of discourse) dalam analisis wacana kritis versi R. Wodak (1996). (3) Paradigma dan strategi penelitian dapat saja dikembangkan ke yang lain, misalnya interaksionisme simbolik, posmodernisme, biso-siasi, intertekstualitas, atau grounded research (Aminuddin, 1998; Mulyana, 2001). Dengan demikian, akan diperoleh hasil pemahaman kapasitas dan kualitas manusia Gus Dur yang semakin utuh, komprehensif, dan bulat (seperti orangnya).
Oleh : D. Jupriono. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27






