Kedua, pelanggaran terhadap maksim relevansi karena jawaban anak gadis itu tidak relevan dengan apa yang diharapkan oleh pertanyaan ibunya.
Ketiga, pelanggaran terhadap maksim cara sebab kata menghargai waktu ternyata memicu ketaksaan makna bagi penafsiran pendengar.
Keempat maksim tutur Grice dilengkapi Leech dengan prinsip kesantunan sebab tuturan wajar tidak semata-mata besangkutan dengan aspek tekstual tuturan, tetapi harus pula memperhatikan sopan santun, sehingga efektivitas komunikasi tercapai (Crystal, 1997).
Prinsip ini dijabarkan Leech (Crystal, 1997; Levinson, 1995) ke dalam enam maksim berikut. (a) Maksim kebaikhatian (tact maxim) menghendaki setiap penutur memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian orang lain. (b) Maksim kemurahhatian (generosity maxim) mengharuskan setiap penutur memaksimalkan kerugian
dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. (c) Maksim penerimaan (approbation maxim) mengharapkan penutur memaksimalkan penghormatan dan meminimalkan rasa tidak hormatnya kepada orang lain. (d) Maksim kerendahhatian (modesty maxim) mengharuskan setiap penutur memaksimalkan penghormatan dan meminimalkan rasa tidak hormatnya kepada diri sendiri. (e) Maksim kecocokan (agreement maxim) menghendaki penutur memaksimalkan kecocokan dan meminimalkan ketidakcocokannya kepada orang lain. (f) Maksim simpati (sympathy maxim) menyarankan setiap penutur memaksimalkan simpati dan meminimalkan antipati. Keenam maksim dapat digunakan secara bersama-sama atau pun sebagian untuk melihat kadar kesantunan tuturan. Wacana (1) di muka, misalnya jelas bertentangan dengan maksim kecocokan karena penutur tidak memaksimalkan kecocokannya kepada orang lain. Contoh lainnya wacana (2) berikut.
- Seorang wanita pengantin baru diancam hukuman berat karena terbukti telah memotong “burung” suaminya yang tertidur, lalu menggorengnya. Di persidangan hakim bertanya, “Apa alasan Saudari memotong ‘anu’ suami Saudari dan menggorengnya?”
Santai, wanita muda itu menjawab, “Saya penasaran sih, Pak. Habis, mentahnya aja enaknya kayak gitu, apalagi matangnya.” (Suara Indonesia, 19 Maret 2000: 9)
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






