“Saya Islam. Air, tolong … minta air …,” jawab korban sambil minta air.
Tetapi, orang-orang tak peduli. Malahan bertanya lagi, “Kamu Islam? Syukurlah. Tapi, NU atau Muhammadiyah?”
“Saya NU. Saya haus … mana … air?” Jawabnya.
Tetapi, orang lebih tertarik untuk bertanya lagi, “Oke, kamu NU. Tapi, partaimu apa? PKU, PNU, PPP, atau PKB?”
“Saya P …,” belum selesai menjawab, … pingsan! (Jawa Pos, 1999)
HGD pada (20) menggambarkan dengan ekstrem dilanggarnya parameter kemendesakan sebuah tindakan yang mestinya segera diambil, mengingat yang dihadapi adalah korban kecelakaan yang butuh pertolongan mendesak. Dalam cara pandang Brown dan Levinson (Levinson, 1995), yang diprioritaskan adalah menyelamatkan jiwa si sakit; soal partai, agama, sekte, aliran, … nomor sekian belas sebab menyelamatkan jiwa demikian pentingnya. Jika toh ada kepentingan untuk mengajukan pertanyaan, pertanyaan itu haruslah bersangkutan dengan terapi penyelamatan jiwa pemuda korban kecelakaan itu. Itu pun kalau keadaan memungkinkan ditanya. Dalam wacana (20), maksud korban mengatakan kalimat terakhir “Saya P …” mungkin, seandainya tidak keburu pingsan, adalah PKB, tetapi mungkin juga PPP, PNU, atau pun PKU. Pembaca pun terpancing untuk menyusun interpretasi lebih lanjut, seandainya P-nya selain PKB, boleh jadi korban itu ditinggalkan begitu saja.
Akan tetapi, sasaran GD melontarkan HGD adalah masyarakat Indonesia yang masih tercengkeram oleh nilai-nilai sektarianisme keagamaan, primordialisme kedaerahan, kepartaian,
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






