- “Kami yang paling dekat dengan Tuhan,” kata pedanda Hindu. “Kenapa kamu begitu yakin?” tanya seorang kiai.
“Lha iya. Lihat saja, kami memanggil-Nya saja Om,” jawab pedanda merujuk seruan religius Hindu Om shanti, shanti Om. Seorang pastor Katolik tak mau kalah, “Kalau alasannya itu sih…, kami dong yang lebih dekat. Lihat saja, kami memanggil-Nya ‘Bapa, Bapa kami yang ada di surga…'”.
Sang kiai diam saja. Pedanda dan pastor penasaran, “Kalau Pak Kiai…, sedekat apa hubungannya dengan Tuhan?”
“Duh, boro-boro dekat…,” jawabnya, “manggil-Nya saja dari menara …” (maksudnya lewat adzan) (Basyaib & Hermawan, 2000: 22).
Keterangan ketiga pemuka agama dalam wacana HGD (7), yang begitu yakin itu, tidak benar dan alasannya pun tidak tepat. Ini pun pelanggaran terhadap maksim kualitas (Grice dalam Crystal, 1997; Samsuri, 1997). Adalah sebuah arogansi ketika seseorang menyatakan diri sebagai yang paling dekat, paling takwa, paling benar, kepada Tuhan yang Mahaesa. Hanya Tuhan yang tahu, sedangkan manusia hanya menjalani titah-Nya dengan penuh keyakinan dan pengharapan. Jadi, salah juga kalau kedekatan diukur dari bentuk sebutan panggilan (Om dari pedanda Hindu, Bapa pastor Katolik) atau tempat memanggil (menara, kiai Islam) kepada-Nya.
Maksim ketiga yang hendak dilihat dalam HGD adalah maksim relevansi. Maksim ini menyarankan agar penutur menyampaikan sesuatu yang sambung (relevan) dengan topik yang dibicarakan. HGD (8) berikut dapat dibedah dari perspektif maksim relevansi.
- Dalam suatu sidang parlemen Inggris bertemulah dua tokoh besar politikus: Perdana Menteri Winston Churchill dan pemimpin oposisi Clemen Atlee, yang gigih memperjuangkan nasionalisasi perusahaan besar, korporasi besar, pabrik besar, industri besar, dan pusat-pusat belanja yang besar.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






