Penjaga gereja dan pura usul, “Sebaiknya, 50% untuk kita, 50% untuk Tuhan.”
Penjaga wihara dan klenteng menyela, “Tuhan tak perlu banyak-banyak. Dia ‘kan Mahakaya. Menurut saya, semuanya untuk tempat ibadah. Kalau ada sisanya, baru kita serahkan kepada- Nya.”
“Tidak bisa begitu,” kata penjaga kuil, “kita ambil saja secukupnya, sisanya kita serahkan ke Tuhan.”
Tampaknya sulit dicapai kata sepakat.
“Saya punya usul begini saja,” kata penjaga tempat ibadah kepercayaan. “Kita bikin lingkaran berdiameter 100cm di tanah. Seluruh uang sumbangan kita taburkan ke atas. Yang jatuh di dalam lingkaran milik Tuhan, yang di luarnya milik kita. Bagaimana?”
Separo mendukung, separo menentang.
Tiba-tiba, penjaga masjid berseru, “Stop. Gitu aja kok repot. Sekarang begini saja. Tak usah pakai lingkaran. Seluruh uang kita taburkan ke atas. Yang jatuh ke tanah, itu milik kita. Lha, yang tidak jatuh berarti sudah diambil Tuhan. Setuju?”
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






