Humor Gus Dur : Multikulturalisme-Inklusif vs Sektarianisme-Inklusif 1

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 14 Januari 2021 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. /Instagram.com/@gusdur_fans.

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. /Instagram.com/@gusdur_fans.

Humor ini memang sengaja membuat kecohan, sehingga pendengar/pembaca akan terkecoh kecele. Seandainya sejak awal lelaki kecil sendirian itu mengatakan dengan runtut bagian “saya disuruh istri” dipaparkan terlebih dahulu di muka, baru kemudian mengatakan “memang di sini loket saya”, orang tidak salah mengerti.

Dengan demikian, kesadaran yang sama-sama dibangun mengenai “ikatan suami takut istri” (ISTI) menemui titik temunya.

Akan tetapi, pelanggaran keruntutan ini  memang sengaja dilakukan untuk membangun efek humor. Jika keruntutan dipatuhi, seperti saran Grice (Crystal, 1997), yang terjadi wacana tuturan biasa, bukan wacana humor.

PRINSIP KESANTUNAN HUMOR GUS DUR

Prinsip kesantunan mencakup maksim kebaikhatian, kemurahhatian, penerimaan, kerendah- hatian, kecocokan, dan simpati. Setiap tuturan dapat menerapkan satu maksim, dapat juga lebih (Aitchison, 1995; Levinson, 1995).

Bagaimana maksim ini diperlakukan dalam HGD? Contohnya kutipan tentang kiai dan santri yang mencuri ayam dan “kambing Gusti Allah” di bagian muka. Yang lain, perhatikan wacana (13) berikut.

  • Suatu ketika berkumpullah para penjaga gereja, wihara, kuil, pura, klenteng, masjid, dan tempat ibadah lainnya untuk membagi secara adil melimpahnya uang sumbangan umat akhir-akhir ini: berapa yang harus diambil mereka dan berapa yang harus disetor untuk Tuhan.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Ragnarok Zero: Global Resmi Diluncurkan pada 18 Agustus

Senin, 17 Agu 2026 - 23:38 WIB