Humor ini memang sengaja membuat kecohan, sehingga pendengar/pembaca akan terkecoh kecele. Seandainya sejak awal lelaki kecil sendirian itu mengatakan dengan runtut bagian “saya disuruh istri” dipaparkan terlebih dahulu di muka, baru kemudian mengatakan “memang di sini loket saya”, orang tidak salah mengerti.
Dengan demikian, kesadaran yang sama-sama dibangun mengenai “ikatan suami takut istri” (ISTI) menemui titik temunya.
Akan tetapi, pelanggaran keruntutan ini memang sengaja dilakukan untuk membangun efek humor. Jika keruntutan dipatuhi, seperti saran Grice (Crystal, 1997), yang terjadi wacana tuturan biasa, bukan wacana humor.
PRINSIP KESANTUNAN HUMOR GUS DUR
Prinsip kesantunan mencakup maksim kebaikhatian, kemurahhatian, penerimaan, kerendah- hatian, kecocokan, dan simpati. Setiap tuturan dapat menerapkan satu maksim, dapat juga lebih (Aitchison, 1995; Levinson, 1995).
Bagaimana maksim ini diperlakukan dalam HGD? Contohnya kutipan tentang kiai dan santri yang mencuri ayam dan “kambing Gusti Allah” di bagian muka. Yang lain, perhatikan wacana (13) berikut.
- Suatu ketika berkumpullah para penjaga gereja, wihara, kuil, pura, klenteng, masjid, dan tempat ibadah lainnya untuk membagi secara adil melimpahnya uang sumbangan umat akhir-akhir ini: berapa yang harus diambil mereka dan berapa yang harus disetor untuk Tuhan.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






